Sie Jin Kwie (Batik dan Perang)

Pada buku acara sie jin kwie (xue rengui) yang pertama, saya menulis demikian: “untuk melengkapi bunyi agar mirip ‘opera cina’, ada beberapa alat musik yang harus diburu. jika dipukul, bunyinya: ‘duuung-iit’ dan ‘ciieng’. di indonesia, tak kami jumpai toko alat musik yang menjualnya. lalu, kami ingat sebuah toko musik cina di jalan rochor, kawasan bugis, singapura (saya pernah tinggal 3 bulan di singapura, ketika menyutradarai ‘sampek engtay’ dalam bahasa inggris)”   “naa, si ‘duuung-iit’ itu, jarang diproduksi karena sering tidak dibeli dan harganya pun selangit. kami hanya bertemu si ‘ciieng’. dan tinggal satu pula. ya, harus dibeli. sang babah penjual menanya, untuk keperluan apa? ketika dijawab untuk melengkapi alat musik lakon pentas siejinkwie, dia tak paham. dia diam saja. tapi begitu kami sebut lafal lain, xue rengui, dia seketika melotot dan berkomentar, “hah? ada seniman gila di indonesia yang berani mementaskan xue rengui?” lalu dia bilang akan ke jakarta untuk menonton. mungkin penasaran.”   begitu berminat menggelar siejinkwie, memang langsung tergambar tingkat kesulitannya. misal, busana dan silat. juga alat musik. kesulitan lain adalah durasi. apalagi jika ‘ngotot ingin mementaskan seluruh eposide, misal, episode berperang ke korea (ceng tang) atau episode berperang ke barat (ceng see). kelompok sandiwara di indonesia, sebelum pd ii, hanya berani menggelar bagian-bagian kecil dari dua episode itu. semacam fragmen. itu pun tetap punya daya tarik.   teater koma menggarap dua episode itu menjadi trilogi siejinkwie. trilogi pertama, siejinkwie (5 s/d 21 februari 2010). trilogi kedua, siejinkwie kena fitnah (maret 2011). trilogi ketiga, siejinkwie di negeri sihir (maret 2012).   pada bagian pertama saja, kami membutuhkan sekitar 250 pakaian untuk para pemain. property-nya juga luar biasa. dan set yang di panggung begitu banyak, sehingga set babak satu ditaruh di dekat panggung, agar bisa lekas masuk. sedang set babak dua, ditaruh di tempat lain. nanti, set babak dua akan akan tiba juga waktunya, pada giliran babak dua. siejinkwie, seharusnya ber-durasi sekitar 7 atau 8 jam, tapi akhirnya kami bisa pentas dalam tempo 4,5 jam. begitu juga pada trilogi kedua kena fitnah, menjadi 5 jam dan trilogi ketiga di negeri sihir, 4,5 jam. saya berharap, penonton tidak bosan. anggaplah seperti menonton wayang kulit, wayang wong atau wayang golek. santai. enjoy. tanpa beban.   yang ditampilkan saat itu, adalah ‘wayang cina-jawa’ karya gwan thwan sing (1885-1966). wayang cina-jawa, mati pada awal orde baru, ketika masyarakat cina di indonesia dilarang menyajikan atau mempertontonkan kebudayaan leluhurnya. putra gwan thwan sing, gani lukito alias gan lian kiem, berusaha meneruskan karya ayahnya itu, sebelum akhirnya seni wayang cina-jawa itu mati. kini, seluruh wayangnya disimpan di museum wayang yogyakarta dan dibeli orang jerman. yang bagus lagi, kostum sebagian dari wayang itu menggunakan batik!   coba kita lihat sekarang, ringkas ceritanya trilogi pertama, siejinkwie.     siejinkwie. raja li si bin dari kerajaan tang bermimpi. seorang ksatria berbaju serba putih mengendarai kuda putih menyelamatkan dirinya dari serangan seorang jenderal bermuka hijau. ketika beliau menceritakan mimpi tersebut kepada para pengikut setianya, penasihat cie bo kong menjelaskan bahwa pemuda itu bernama siejinkwie, yang akan menjadi pahlawan besar tang. tak lama, datang tantangan perang dari kaesobun, panglima perang kerajaan kolekok (korea).   kerajaan tang merekrut banyak orang untuk menyerbu kolekok. salah satunya adalah siejinkwie, pendekar muda berbaju serba putih. hal ini dimanfaatkan oleh atasannya, thio su kwie, yang juga mendengar kisah mimpi raja. sie jin kwie masuk ke divisi dapur, tapi mendapat banyak pengikut sehingga terbentuklah pe de tang, pasukan dapur tang. di medan perang, sie jin kwie dan pe de tang banyak berjasa. semua jasa diakui thio su kwie sebagai jerih payah mantunya. sie jin kwie sendiri disembunyikan dari berbagai upaya pencarian raja li si bin.   perang makin membara. kaesobun berhasil dikalahkan sie jin kwie. semua kebusukan thio su kwie akhirnya terungkap. seluruh keluarga thio dihukum mati. di akhir cerita, sie jin kwie benar-benar menjadi pahlawan kerajaan tang, dan mendapat anugerah gelar raja muda.   itulah yang kami harus mainkan. siejinkwie (xue rengui, atau hsieh yen kuei), adalah cerita klasik. penulisnya, tiokengjian, hidup di zaman goan (dinasti yuan, 1271-1368). kisah itu kemudian diedit oleh lokoanchung, penulis epos masyhur  sam kok (kisah tiga negara), yang hidup pada zaman dinasti ming (1368-1644). kisah siejinkwie pertamakali diterbitkan di indonesia pada tahun 1894, oleh penerbit kho cheng bie & co.   tjiong hok long (1874-1917), yang saat itu sangat rajin menyadur kisah-kisah yang termashur sebagai warisan sastra tiongkok. sie djin kwie tjeng tang ini, kemudian diberi judul tambahan, cerita lengkap xue rengui menaklukkan korea. novel setebal 768 halaman ini dicetak berkali-kali, dan diterbitkan ulang, hingga kini. siauw tik kwie (oto suastika), menggambar komik sie djin kwie pada 1952 dan dimuat secara bersambung di majalah star weekly.    soal senjata, bagaimana cara mengakalinya? untungnya, di cina ada museum siejinkwie. kami membaca dan memahami seluruh isi museum itu. nah, dari situlah kami melihat bentuk-bentuk senjata dan property-nya. kami memproduksi senjata di sukabumi (pedang, kapak dan tombak), mirip yang ada di museum cina. bagaimana soal silat? kami meminta bantuan almarhum o’ong maryono, pesilat yang luar biasa itu, untuk melihat jenis silat apa saja yang kami lakukan di pentas.   siejinkwie yang kami tampilkan, dikemas dalam perbauran antara drama, potehi, wayang kulit cina-jawa, wayang tavip, opera cina, wayang golek menak dan wayang wong. maka tak heran jika seluruh bentuk wayang yang kami kenal, wayang jenis apa pun, baik wayang rakyat maupun wayang istana, kemudian dijadikan sebagai inspirasi untuk mewujudkan bentuk pengucapan dan ekspresi yang dramatik dan memiliki makna. sesungguhnya, inilah wayang indonesia, yang hadir lewat wayang teater koma. bisa jadi, inilah wayang ‘masa kini’ kita. banyak yang terlibat dalam siejinkwie. ohan adiputra, menjadi co.sutradara saya. musik, ditata idrus madani yang komposisi musiknya ditata fero a. stefanus. wayang tavip, naomi lumban gaol sebagai instruktur vokal, onny menata set dan membangunnya di panggung. iskandar k. loedin menata lampu, elly luthan menjadi koreografer dibantu ratna ully, rima ananda menggarap busana, sena sukarya menggarap rambut dan rias, subarkah hadisarjana menjadi konsultan artistik, rasapta candrika menangani grafis, totom kodrat menjadi penata suara dan akustik, tinton prianggoro sebagai pengarah teknik, sari madjid menjadi manajer panggung dan ratna riantiarno menjadi pimpinan produksi.   bagaimana kami mampu mementaskan siejinkwie dalam tiga episode? karena ada djarum apresiasi budaya yang sungguh sangat membantu. mereka mengongkosi kami memainkan lakon itu. sesudah siejinkwie dipentaskan, tahun berikutnya kami mementaskan siejinkwie kena fitnah di graha bhakti budaya, taman ismail marzuki, pada 4 s/d 26 maret 2011. pentas tahun lalu juga di tempat itu.   pementasan kali ini, tak banyak berubah. konsep pertunjukan masih seperti pada pentas siejinkwie awal. batik, menjadi bagian dari busana para pemain. ada beberapa peran baru yang muncul dan tentu saja mereka dibusanai secara batik. senjata masih ada, dan pasti digunakan pula. perang, saat itu, masih sebatas tarian. kali ini, kami meminta bantuan wushu dari universitas binus. mereka bermain sangat bagus, sanggup mengisi pertunjukan.       dan inilah, ringkas cerita dari siejinkwie kena fitnah.    siejinkwie kena fitnah.  raja muda sie jin kwie memiliki musuh yang memendam dendam kesumat terhadapnya. thio bie jin adalah satu-satunya keluarga thio su kwie yang tersisa. dia selamat karena statusnya sebagai istri paman raja, li to cong. kedua suami istri itu pun bersekongkol dengan thio jin, keluarga jauh thio bie jin.   sie jin kwie dibikin mabuk dengan arak yang dibubuhi obat bius, lalu difitnah telah memerkosa dan membunuh putri li to cong. kaisar li si bin murka besar, sie jin kwie dijebloskan ke dalam penjara, menunggu hukuman mati. teman-teman sie jin kwie berupaya membuktikan bahwa dia tidak bersalah. dengan bantuan berbagai pihak, sie jin kwie akhirnya dibebaskan. li to cong, thio bie jin dan thio jin menemui ajal mereka.   tak lama, datanglah tantangan dari souw po tong, panglima perang kerajaan see liang atau tartar barat. sie jin kwie diangkat sebagai panglima besar pasukan tang, kemudian berangkat menuju see liang untuk menghadapi souw po tong.   nah, ketika kami berniat mementaskan siejinkwie di negri sihir, perubahan terjadi. kali ini, kami wajib menggunakan batik sebagai busana. batik mana yang kiranya bisa digunakan sebagai busana para pemain? tentu saja, batik peranakan. dan batik itu tersebar di kota-kota pantai. maka, kami harus segera berburu agar  menentukan batik peranakan mana yang bisa digunakan untuk busana. kami kemudian menuju ke jawa barat (cirebon), pekalongan, semarang, solo, jepara dan lasem. dan kami menemukan berbagai jenis batik peranakan. ini perburuan yang luar biasa. onny koes, sebagai penata dan pembangun set, ikut serta juga.  coba kita tengok ringkas kisah lakonnya:   siejinkwie di negri sihir. saat sie jin kwie kalah dan pasukannya dikepung souw po tong, datanglah seorang penolong, yaitu putranya sendiri, sie teng san. waktu kecil teng san disangka tewas terkena panah sie jin kwie, sebetulnya diselamatkan dewa onggo locu dan diangkat jadi murid. teng san dititah sang guru turun gunung untuk menyelamatkan sie jin kwie dari kepungan souw po tong. dalam perjalanan, dia menikahi dua wanita, touw sian tong dan tan kim teng.   hwan lie hoa, putri hwan hong, jenderal besar kerajaan see liang. menurut gurunya, hwan lie hoa ditakdirkan menjadi istri sie teng san. saat bertengkar dengan ayah dan kedua kakak laki-lakinya, dia tidak sengaja membuat mereka terbunuh. tapi, sie teng san tidak menanggapi semua pengorbanan hwan lie hoa dengan simpatik. tiga kali dia menolak hwan lie hoa menjadi istrinya.   sie jin kwie menemui ajalnya saat melawan yo hoan, mantan tunangan hwan lie hoa. arwah macan putih pelindungnya tak sengaja dipanah oleh sie teng san. karma. raja li si bin berduka, hingga akhirnya mangkat pula. raja li ti naik tahta. sie teng san diperintah menjemput hwan lie hoa, berjalan kaki membawa meja dupa, setiap tujuh langkah berlutut untuk berdoa. melihat ketulusan teng san, hwan lie hoa menerima. mereka menyelenggarakan pesta pernikahan, sebelum bersiap melanjutkan perang melawan see liang.     lakon ini kami pentaskan di graha bhakti budaya, taman ismail marzuki, pada tanggal 1 s/d 31 maret 2012, persis satu bulan. mungkin penonton ingin tahu, apa  yang terjadi pada siejinkwie? dan ini merupakan pertunjukan teater koma yang paling panjang, satu bulan dalam satu lakon, siejinkwie di negri sihir.   itulah akhir dari lakon ini, pernikahan sie teng san dengan hwan lie hoa. batik peranakan menjadi busana mereka berdua. dan seluruh batik yang dipakai, yang kami potret ketika hunting, kami pajang di kiri dan kanan luar panggung, menjadi set pertunjukkan juga. lakon ini, sesungguhnya selesai sampai di sini. tapi, apakah itu akhir lakon siejinkwie? masalah yang paling pokok adalah, musuh besar siejinkwie, yakni souw po tong, belum mati. inilah yang menjadi pengantar, mengapa pada suatu saat, lakon ini harus dilanjutkan sampai musuh besar siejinkwie mati. dan itu terjadi sekitar lima tahun sesudah lakon itu usai pentas.     teater koma tetap berpentas. selama 2012-2017, kami mementaskan: ibu, demonstran, sampek engtay di jakarta, semarang dan penampilan perdana di ice-bsd city, republik cangik, opera ular putih, semar gugat, museum nasional empat kali, nyaris dan cahaya dari papua di galeri indonesia kaya di grand indonesia, opera ikan asin di ciputra artpreneur dan warisan. sebagian lakon-lakon itu dipentaskan di graha bhakti budaya-tim dan gedung kesenian jakarta.   lima tahun berlalu. bagi saya, rasanya siejinkwie belum selesai, karena musuh besarnya, souw po tong, belum juga mati. memang siejinkwie sudah wafat, dan sesudah itu raja lisibin wafat pula. yang kini berjuang adalah mantunya, hwan lie hoa. dan juga anaknya, sie teng sang. keduanya sudah menjadi jendral. mungkin lakon ini, bagaimanapun, harus diselesaikan hingga kerajaan tang tidak punya musuh lagi di tartar barat. maka, sesudah lima tahun, kami pun mencoba mementaskan lakon ini di graha bhakti budaya-tim, pada tanggal 10 s/d 19 november 2017. lakon yang ini tetap menggunakan busana batik.   dan inilah ringkas kisahnya:   siejinkwie melawan siluman barat.  jenderal wanita hwan lie hoa, diangkat raja li ti menjadi panglima perang pasukan tang untuk mengalahkan jenderal souw po tong dan menaklukkan tartar barat. beberapa jendral luar biasa membantunya. ada sang suami, sie teng san. cin han yang bisa terbang dan mampu menyusup ke dalam bumi. touw it houw yang mampu melarikan diri ke dalam tanah. ada pula empat jendral wanita, touw siang tong, tiauw goat go, sie kim lian dan tan kim teng.   yang dilawan oleh hwan lie hoa dan pasukannya adalah siluman-siluman. para dewa jahat juga ikut membantu tartar barat. tapi para dewa baik membantu pasukan tang. dua kekuatan itu akhirnya berperang, baik di angkasa maupun di darat. apakah tartar barat bisa ditaklukan?   sie jin kwie, melawan siluman barat, adalah lakon yang mustahil. dan itu terjadi ratusan tahun yang lalu. mungkin, yang sekarang kita lawan adalah siluman juga. apa betul yang kita lawan sekarang ini adalah siluman? benarkah mereka siluman?     yang dilawan oleh hwan lie hoa dan pasukannya adalah para siluman. sebagian besar pimpinan di tartar barat bisa mengubah dirinya menjadi kepala tiga dan tangan enam. bahkan penghuni langit pun, biasanya berupa binatang, ikut membantu manusia bumi. entah mengapa, mereka sangat simpati kepada tartar barat. apakah ini merupakan bentuk penjajahan dari kerajaan tang?   bahkan souw po tong pun bisa mengubah dirinya menjadi pelangi lalu terbang ke langit, meloloskan diri dari hukuman pancung. dia juga bisa hidup di dalam air. dia bisa bernafas pula, di air laut. para siluman itu, dengan berbagai cara berusaha mengusir pasukan tang keluar dari tartar barat. apakah prajurit dari tang bisa terusir? bagaimana caranya mengalahkan para siluman itu?   di dalam lakon ini, melawan siluman barat, ada 22 perang yang harus kami lakukan. beberapa merupakan perang kecil tapi sebagian lagi merupakan perang besar. mau tidak mau, pasukan tang dan pasukan tartar barat jugalah yang ikut berperang. bahkan di dalam peperangan, hwan lie hoa melahirkan dua kali!   beberapa catatan di cina, menyebutkan, perut hwan lie hoa tetap tidak besar. kehamilan bagi seorang jendral, tentu akan bisa dipakai sebagai cara untuk mengalahkan pasukan tang. maka, kehamilan tidak boleh diberitahukan, terutama kepada musuh. kelahiran pertama adalah ketika hwan lie hoa coba menangkap souw po tong. para jendral itu ada di medan perang. jadi, di dalam kancah perang itulah bayi sie kong dilahirkan! ketika kelahiran kedua terjadi, bayi hwan lie hoa tidak berada dalam perang. silakan hitung, berapa tahun hwan lie hoa melakukan perang! luar biasa. dia adalah jendral perempuan yang sangat luar biasa. kali ini, kami memohon bantuan pak sentot s dan pak djoko ss menggarap koreografi. di dalam perang itulah kedua maestro itu berperan. dia harus menggunakan para aktor teater koma, agar bisa melaksanakan peperangan. para aktor coba diajarkan agar peperangan, kecil maupun besar, terjadi.     fero a. stefanus, menggarap semua lagu melawan siluman barat. ada sekitar 23 lagu dalam lakon ini. dan dalam perang, tanpa lirik, segala jenis musik cina akan menjadi penghantar peperangan. fero juga yang akan menentukan jenis musiknya. dia bekerja sangat berat, tapi semua lagu itu selesai pada awal oktober, dan seluruh komposisi selesai pada minggu ketiga oktober. dengan komposisi itulah, semua lagu ditulis dalam not balok, para pemusik akan memainkannya. pada siejinkwie 1-2 dan 3, fero-lah yang menggarap aransemen musiknya.    onny koes, sudah wafat. kali ini yestha nandanagupta, putra onny, yang menggarap pembangunan set di panggung. nampaknya, regenerasi tetap dilakukan. ohan adiputra, tetap menjadi co.sutradara saya. dia menggiring para pemain agar bisa bermain baik dan ikut mengurusi musik. idries pulungan, kali ini dia memerankan souw po tong, sangat membantu. banyak hal yang diingatkan kepada saya. dia juga ikut mencari property. dan batik, tetap menjadi bagian yang utama. sebagian kostum para pemeran tetap menggunakan batik. rima ananda juga yang mendesain kostumnya. sena sukarya dan subarkah hadisarjana tetap membantunya dengan menata rambut-kumis dan irah-irah (ketopong di kepala para pemeran).   pada pementasan ini, kami tidak akan mengritik pemerintahan, biarpun korupsi tetap dilakukan. kebrutalan politik dan hal-hal yang sering dipakai agar lawan politik kalah, juga tidak kami bahas dalam lakon. kami berusaha agar lakon ini dilakukan dengan bagus, menarik dan bermakna. mungkin, ada yang menganggap lakon bagus-menarik-bermakna tidak dianggap penting. mungkin lakon seharusnya dipenuhi tawa karena kritik tetap dilakukan, hanya kritik saja untuk ditertawakan! padahal, sesungguhnya kita, sebagai orang teater, pada kali ini, justru tak mampu berbuat apa-apa, karena kita memang tak mungkin bisa berbuat apa-apa.       apakah kita, sebagai orang teater, justru sekarang ini, sungguh-sungguh tak mampu berbuat apa-apa?(diterbitkan di buku program sie jin kwie melawan siluman barat – november 2017)

Cangik & Limbuk

Siapa cangik dan limbuk? apakah dia mewakili golongan perempuan, paling tidak yang kadang-kadang, kini, sering kurang bicara? saat ini, dari 34 menteri republik indonesia, kita punya 8 menteri perempuan yang sungguh luar biasa. bukankah ini kemajuan? presiden republik indonesia yang dulu-dulu, biasanya hanya punya empat menteri perempuan.   nah, limbuk itu, sebagai anak yang selalu pengen kawin, tapi tetap saja single, sering berkelakukan kurang beres. cangik, ibunya limbuk, lebih bicara, bagaimana seharusnya perempuan di mata para lelaki, isteri dan keluarga. saat itulah dia menasehati limbuk. jadi, cangik itu lebih bicara tentang moralitas, dan posisi perempuan, saat itu, di pewayangan.     di pewayangan, ada panakawan. biasanya, lelaki. mereka juga disebut punakawan atau pamong. pana itu berarti tahu atau paham, sedang kawan artinya teman yang mumpuni. para panakawan, selain bertugas mengawani sekaligus juga mengarahkan, menghibur, memberi semangat dan seringkali malah memotivasi agar para satrianya berani menghadapi kenyataan. di dalam mahabarata atau ramayana india, panakawan itu tak pernah ada. jadi panakawan itu, sungguh-sungguh asli indonesia. biasanya, para satria, yang baik maupun yang jahat, sering memiliki panakawan.     di zaman pewayangan, para panakawan itu; semar, gareng, petruk dan bagong. dulu, para panakawan tinggal di kahyangan, itu ‘surganya wayang’. saudara tua semar bernama togog. dan togog selalu ditemani bilung, yang sering dianggap sebagai anaknya. ketika manusia semakin berkembang dan dunia kian penuh, semar ditugaskan para dewa menjadi panakawan para satria yang baik. togog bersama bilung, bernasib buruk. dia harus pergi ke para ksatria jahat. kadang ‘yang jahat-jahat itu’ dinasehati agar berbuat baik. tapi, kalau mereka tidak menurut, para ksatria jahat itu malah diminta togog berkelahi dengan satria baik. maka perang pun terjadi. sesudah generasi semar, ada panakawan lain. mereka, biasanya, lelaki.   mereka itu sabdapalon dan nayagenggong dalam wayang klitik. juga bancak, doyok, sebul, palet, ronggo tani, ronggo tono, anggitseco dan anggotseco dalam wayang gedog. di wayang kulit cirebon, para panakawan malah ada sembilan; semar, gareng, bagal buntung, ceblok, cungkring, dawala, bagong, bitarota dan bahendi. dalam wayang golek menak, ada toples dan jiweng. di bali, ada juga merdah dan anaknya twalan atau tualen, juga cupak, grantang dan sengut. di kalimantan, ada semar, lak garing atau pacukmarita dan pitruk atau galiparjuna.   jadi, cangik dan limbuk adalah panakawan perempuan. mungkin, dia itu  emban perempuan yang bertugas sebagai panakawan. dua perempuan dari sekian panakawan yang sebagian besar lelaki? dan, mungkin pula, kini saatnya perempuan bicara, tentu saja, demi kemaslahatan perempuan! cangik itu dayang kelas rendah, tetapi akrab dengan keluarga raja. mereka biasanya ditampilkan sebagai ‘pelawak’ dalam adegan kedatonan dalam pagelaran wayang kulit purwa maupun wayang orang. cangik selalu muncul bersama anaknya, limbuk. mereka, memiliki tubuh yang sangat berbeda. cangik itu kurus, lehernya panjang. sedang limbuk itu gemuk dan pendek.   pemunculan cangik dan limbuk, hanya sebagai tokoh penghangat suasana. tentu saja, ibu dan anak itu sering melucu. biasanya, limbuk sering membicarakan khayalan dan impiannya saat dilamar lelaki. kawin atau, malah, tidak jadi kawin. adegan ini, di dalam pewayangan sering disebut sebagai limbukan. beberapa dalang, sering menggunakan dialog cangik dan limbuk sebagai alat untuk tujuan dakwah, pendidikan dan penerangan masyarakat. atau, bisa juga, yang menanggap wayang sering menggunakan cangik dan limbuk sebagai nasehat bagi masyarakat sekitar dia tinggal.   saat jejeran, cangik dan limbuk kadang muncul di kaputren. yang paling sering adalah ketika dia berperan sebagai emban woro sumbadra, adiknya kresna dan baladewa. nah, di saat itulah, sering diselipkan berbagai nasehat bagi para gadis, dan kritik umum tentang dunia kewanitaan.   dalam pewayangan, limbuk berbadan subur, tapi hidungnya pesek dan dahinya lebar. limbuk itu emban muda yang genit. dia tidak berpengalaman dan selalu ingin kawin. tapi tidak ada lelaki yang datang melamar dia. saking genitnya, tokoh limbuk selalu membawa sisir serit ke mana pun dia pergi. ya, dia akan menyisiri rambutnya agar terlihat keren di mata lelaki. tapi, di mata limbuk, lelaki yang paling cocok bagi dia adalah gatotkaca. dialah pria anaknya bima, yang bisa terbang dan bentengnya amarta, kerajaan di mana para pandawa tinggal. tapi gatotkaca sudah menikah!   apakah cangik dan limbuk, bisa mewujudkan apa yang mereka impikan? musibah yang kemudian menjadi berkah?   (catatan: n. riantiarno)(diterbitkan di buku program republik cangik – november 2014)

Harry Roesli Tidak Mati

dia kawan kerja yang menyenangkan, sahabat yang hangat dan bagi saya, saudara yang terbaik di dunia. harry roesli. ya, dia. totalitasnya patut diteladani. kontribusinya tulus. keikhlasannya dalam memberi selalu mengharukan. dan humornya serasa tak kunjung habis. demikian kenyataannya. saya dan teater koma kehilangan. dunia seni pertunjukan kehilangan. terlalu cepat dia pergi.   kami bekerjasama sejak 1983. produksi yang mempersatukan kami adalah opera ikan asin atawa the threepenny opera karya bertolt brecht. sesudah itu, kami mengerjakan berturut-turut lakon opera salah kaprah (the comedy of error) karya william shakespeare, 1984. opera kecoa, 1985, lakon karya saya. disusul wanita-wanita parlemen (women in parliament) karya aristophanes, 1986. kemudian opera julini, 1986, juga tulisan saya. dan opera para binatang (animal farm) karya george orwell, 1987.   kami berpisah sebentar. kang harry, demikian panggilan akrabnya, semakin sibuk menggelar berbagai protes terhadap ketidakadilan di tanah air. tentu saja, lewat pertunjukan musik atau orasi yang menggedor. kami bertemu lagi pada produksi banci gugat, lakon yang juga saya tulis, 1989. dan ketika kami menggelar kembali opera kecoa di gedung kesenian jakarta, 1990, musibah pelarangan menimpa. itulah pertunjukan pamit, karena lakon opera kecoa akan melakukan muhibah di empat kota di jepang (tokyo, osaka, fukuoka dan hiroshima). pelarangan terjadi, setelah pergelaran teater koma sebelumnya, suksesi, juga dilarang pada malam yang ke-11.   polisi melarang kami naik pentas pada general rehearsal. dua mobil kijang polisi diparkir melintang, menghalangi gerbang depan gkj. dan para polisi, dengan garang, mengusir siapa pun yang mencoba masuk halaman gedung. peristiwa yang sangat memalukan! staf penataan artistik dan dua wartawan senior dari jepang sudah datang untuk melakukan koordinasi akhir serta perancangan strategi pr-ing. kenyataannya, polisi gagal mencegah puluhan wartawan -- dari dalam dan luar negeri -- yang dengan berbagai cara coba memasuki halaman gkj. sebagian dari mereka malah nekad melompati pagar. mereka didorong oleh rasa ingin tahu apa yang tengah terjadi.   muhibah teater yang sudah dirancang selama dua tahun itu, akhirnya batal. begitu saja. exit-permit tak diperoleh. peristiwa itu mendorong para seniman mengadu ke dpr-ri, untuk memprotes. juga digelar sebuah dengar-pendapat di kantor menkopolkam sudomo. tapi protes apa pun yang dilakukan para seniman, opera kecoa tetap tidak diizinkan pergi ke jepang.   pada malam pelarangan itu, ketika hampir semua anggota larut dalam emosi, kang harry segera mengambil alih dan memimpin kami untuk berdoa. dia meminta agar kami menyerahkan segala sesuatunya kepada yang maha kuasa. kami memperoleh sedikit ketenangan dan pasrah. meski hati tetap panas.   dalam konperensi pers yang langsung digelar pada malam pelarangan itu, saya, mungkin karena emosional, menyatakan tidak akan mengerjakan kegiatan teater selama dua tahun. belakangan, kang harry mengingatkan agar saya menimbang kembali pernyataan itu. dia bilang, “tidak melakukan kegiatan teater, sama artinya dengan tidak mempedulikan ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang terus terjadi di depan mata. daripada diam, lebih baik berbuat sesuatu, meskipun tidak ada yang mau melihat dan mendengar.”   usia kang harry lebih muda dari saya. dia lahir di bandung 10 september 1951. tapi dia lebih bijak. kata-katanya benar. saya kemudian membatalkan niat saya dan kembali menggelar kegiatan teater, hingga sekarang. kang harry, kang harry, saya tidak akan pernah bisa melupakan akang. panggilan akang, adalah cerminan rasa hormat saya kepadanya.   kisah perkenalan kami, dimulai seusai pementasan teater koma, bom waktu,  1982. keinginan untuk menggelar the threepenny opera karya bertolt brecht, begitu menggebu-gebu. dan satu-satunya pilihan, hanya kang harry. saya yakin dia mampu menafsir karya kurt weill yang monumental itu. the threepenny opera, yang kemudian saya sadur dan memperoleh judul baru, opera ikan asin, memang tak bisa dipisahkan dengan musik kurt weill.   pendukung produksi, goethe institut jakarta, bersedia menghubungi yayasan brecht yang berkedudukan di munich, jerman barat, agar mereka mengirimkan partitur lengkap musik kurt weill. untuk itu, kami wajib membayar royalti pementasan, sebesar 50 dm per-malam. dan karena lakon akan kami gelar selama 10 malam, maka jumlah royalti berjumlah 500 dm. barangkali, inilah  pertama kali orang teater indonesia membayar royalti.    banyak orang bilang, kang harry tidak cocok memainkan musik kurt weill. saat itu, kang harry tengah menggemari musik elektronik. sedang kurt weill, konon, lebih pas jika dimainkan dengan musik akustik. tapi saya tidak terpengaruh. saya membantah. “kang harry pakar musik perkusi. lagipula, apa salahnya jenis musik elektronik? musik adalah musik. instrumen apa pun yang dipergunakan sebagai medium, tidak masalah. yang utama, saya dan kang harry memiliki rasa yang sama, tafsir dan nafas estetik yang sama.” lagipula, musik kang harry sama ‘nakal’nya dengan musik kurt weill.   padahal, saya belum ketemu dia. dan terus terang, saya belum tahu, bantahan saya itu benar atau salah. mungkin, saya menjawab begitu, karena yakin harus menjawab begitu. waktu juga yang kelak akan membuktikan.   kami bertemu pada suatu malam, akhir 1982, di depan gedung teater arena pusat kesenian jakarta taman ismail marzuki. sebuah pertemuan yang singkat tapi bermakna. itulah pertemuan pertama, karena selama ini saya hanya kenal nama. belakangan, kang harry pun mengakui hal yang sama. memang baru saat itulah kami bertemu muka. saya salami dia, basa-basi sebentar, kemudian  langsung mengutarakan rencana. dia mendengarkan dengan seksama.  saya berkata, “teater koma tidak akan mampu membayar kang harry dan dksb (depot kreasi seni bandung). saya hanya bisa berjanji, setelah pemasukan dan pengeluaran dihitung, sisanya akan dibagi secara terbuka. sepertiga untuk kang harry dan duapertiga untuk teater koma. tapi kalau pertunjukan rugi, akang tidak akan mendapat apa-apa selain ucapan terimakasih.”   nama harry roesli begitu terkenal. saya sadar, tengah berhadapan dengan ‘orang besar’. bukan hanya tubuhnya yang besar, tapi juga karya-karyanya. saya sendiri, terusterang, kurang begitu yakin dia akan menerima kondisi seperti itu. jebolan fakultas teknik itb itu, mendirikan ‘gang of harry roesli’, 1971-1977. kemudian menggelar pentas teater ken arok di pkj-tim, 1975. dunia musik geger, karena alat-alat musik yang digunakan harry roesli tak hanya sebatas gitar, melainkan juga gong, gamelan, drum, botol, kaleng bekas dan kliningan. pada 1977, harry roesli pergi ke belanda untuk belajar musik di rotterdam conservatorium. dia menetap di belanda hingga 1981.   sepulang dari belanda, harry aktif di departemen musik lpkj, sekarang ikj. dia juga dosen jurusan musik ikip bandung, dan belakangan direkrut menjadi profesor. dia mendirikan dksb, depot kreasi seni bandung. kemudian, jadi bapak asuh ribuan anak jalanan bandung. karya-karya musiknya, antara lain, rumah sakit, paranthese, sikat gigi, konser detak jantung, opera tusuk gigi.   saya menunggu responnya. saya tidak tahu apa harus saya lakukan jika dia menolak. hanya dia pilihan saya. tapi, dia tersenyum lebar dan menjawab sangat ramah, “wah, saya senang dipercaya menjadi tukang musik teater koma. soal pembagian honor, tidak perlu lagi dibicarakan. kapan saya mulai bekerja?” dia rendah hati, menyebut diri sebagai tukang musik.   saya lega. itulah jawaban yang sangat mendukung. segera saya serahkan naskah opera ikan asin yang sengaja saya bawa. saya berjanji akan segera mengirimkan bahan-bahan musik dari jerman sudah datang. dia mengangguk. kami berpisah. hanya itu. pertemuan yang sangat singkat. tapi saya langsung ‘jatuh cinta’ kepadanya. dia cocok dengan bayangan saya. saya yakin, dia akan banyak berperan dalam pentas opera ikan asin.   opera ikan asin digelar di teater tertutup tim, 30 juli hingga 8 agustus 1983. penonton membludak. ada juga jendral polisi yang menonton. kemudian, pusat kesenian jakarta meminta agar lakon digelar lagi khusus untuk mengawali pembukaan graha bhakti budaya tim, 20-21 agustus 1983.   saat partitur tak kunjung tiba, saya gelisah. saya hafal seluruh musik dan lagu kurt weill. saya mengenal bertolt brecht dan kurt weill sejak masih di teater populer. dan saya sangat terobsesi. saya dengar berulangkali piringan hitam milik teguh karya. saya bahkan bisa menyanyikan semua lagu lakon the threepenny opera. lalu, saya putuskan untuk merekam seluruh musik opera ikan asin hanya dengan iringan gitar. saya yang menyanyi. dan hasil rekaman itu, segera saya kirimkan ke bandung. kang harry menerimanya dengan heran, “mas nano menyanyikan semua lagu? gila.” tapi, dia segera bekerja. hanya berdasarkan hasil rekaman seadanya itu. ketika sebulan kemudian partitur lengkap datang dari munich, dia tidak membutuhkannya lagi. kerja sudah selesai. kang harry menyebut karya kurt weill sebagai, “musik ompong yang sinting, tapi luarbiasa.” kang harry berhasil menafsir nada dan suasana dramatik hanya dari rekaman saya itu. hasilnya, ternyata tak beda jauh dengan partitur aslinya. dia mengadaptasi lewat berbagai alat musik yang sekaligus menyiratkan karakternya yang khas, ‘nakal’. dasar musik kurt weill, tidak hilang. sebuah sinergi yang luar biasa. gabungan dari dua enerji yang masing-masingnya tetap mandiri.   saya gembira karena pilihan tidak keliru. kang harry-lah orangnya!   kalau diceritakan lagi, maka terasa, cara kerja kami waktu itu sangat romantik. kami berlatih keras. kang harry mengirimkan sample musik, berupa musik yang diisi suara nyanyian dan minus one. kami berlatih menyanyi berdasar panduan itu. setelah dua bulan berlatih, kami pergi ke markas dksb, untuk berlatih bersama. kami melakukannya tiga kali pada bulan ketiga. dua minggu sebelum hari pementasan, kang harry dan rombongan dksb, berlatih bersama di sanggar teater koma. seluruh dinding sanggar kami tutup dengan kasur-kasur isi kapuk, untuk meredam suara. meski begitu, tak seluruh suara bisa diredam. suara musik kang harry yang menggedor-gedor, seringkali lolos. dan membikin kaget para tetangga, terutama, yang mengidap penyakit jantung.   cara kerja itu, akhirnya bisa ditengarai oleh para tetangga yang bermukim di sekitar sanggar teater koma. bagi yang mengidap penyakit jantung, dua minggu sebelum hari pertama pementasan, pasti mereka akan mendengar musik menggedor-gedor. saya datangi mereka dan meminta maaf. tapi, salah seorang tetangga malah bilang, “tak apa. suami dan anak-anak saya, penonton teater koma. saya ingin menonton juga tapi tidak kuat. para pembantu malah hafal lagu-lagunya. dan menyanyikannya kalau mereka memasak atau mencuci. apaboleh buat, saya terpaksa mengungsi di rumah saudara selama dua minggu. bunyi bedug-nya itu lho, bikin jantung saya seperti dipukuli.”   saya ingin meminta maaf lagi, lewat tulisan ini. bedug kang harry memang terkenal sangat menggedor jantung. musiknya riuh rendah tapi indah. penuh kegembiraan. kami selalu berlatih bersama di sanggar, selama dua minggu atau sepuluh hari. sesudah itu kami boyong ke gedung pertunjukan di tim.   banyak kenangan yang tak mungkin bisa dilupakan selama saya bekerjasama dengan kang harry dan dksb. salah seorang anggota dksb, benny bengcoet, kemudian menetap di teater koma dan berhasil mencipta sistem manajemen tiketing yang dasarnya tetap dipakai teater koma hingga kini.   opera ikan asin menjadi awal upaya pencarian bentuk teater musikal yang diyakini teater koma. saya dan kang harry coba menyempurnakannya pada produksi berikut, opera salah kaprah, 1984. tapi baru pada produksi opera kecoa, 1985, kami menemukan bentuk teater musikal yang lebih pas. opera kecoa adalah teater koma, dan sekaligus juga harry roesli. sama dengan the threepenny opera yang tak terpisahkan dengan kurt weill, opera kecoa juga tak terpisahkan dengan harry roesli. saya menganggap, opera kecoa adalah babon dari bentuk teater musikal teater koma.   ya. opera kecoa. saya teringat ketika pada suatu malam, gedung gbb dipenuhi tentara berseragam. mereka memenuhi hampir separuh gedung. rupanya mereka hanya menjadi penonton, dan menikmati. intel di mana-mana, tapi  ikut tertawa ketika ada adegan yang dianggap lucu. lalu, penonton yang membludak, rela duduk lesehan dan memenuhi anak tangga auditorium. kaca loket dan pintu kaca gbb pecah akibat desakan para calon penonton yang memaksa ingin menonton. pentas diperpanjang tiga hari dan tetap dibanjiri penonton. semua itu menjadi kenangan tak terlupakan.   opera kecoa juga dipentaskan di rumentang siang, bandung, 1985. dan diperpanjang dua hari. seluruh rombongan teater koma menginap di markas dksb di jalan supratman. kang harry menjamu dan sangat memanjakan kami. dia juga berhasil menenangkan kami, ketika datang ancaman bom lewat telepon. sepasukan polisi menyusuri sudut-sudut rumentang siang hingga ke atapnya. tak ditemukan sebuah bom pun. pentas tetap berjalan. tak ada bom yang meledak. untunglah hanya ancaman. meski hati kami tetap waswas.   kang harry menjadi saksi pentas demi pentas yang kami lakoni bersama. pada pentas wanita-wanita parlemen, 1986, saya diinterogasi dua polisi di belakang panggung, dua malam berturut-turut. kang harry langsung mengambil alih pimpinan. dia berhasil meyakinkan seluruh yang terlibat dalam pentas, agar tetap tenang dan menuntaskan tugas berpentas. semua tetap bermain, dan seakan tak terganggu, meski mereka melihat saya diinterogasi secara keras.   produksi opera julini di gbb, 1986, tak mengalami hambatan yang berarti. pentas berjalan mulus selama 16 malam dan berhasil mengumpulkan jumlah penonton sekitar 15.000. lalu opera para binatang (animal farm) karya george orwell, kami panggungkan selama 23 hari, juga di gbb. musik kang harry berhasil mewarnai karakter lakon. kami melakoni jalan teater dengan penuh kegembiraan. konsep sepertiga untuk kang harry-dksb dan duapertiga untuk teater koma tetap kami jalankan secara terbuka. tapi, sesungguhnya, yang  paling penting adalah; kami melahirkan berbagai karya teater bersama-sama.   saya nyaris tak percaya saat menerima berita kang harry meninggal dunia. hari itu, sabtu, 11 desember 2004, pukul 20.00 wib, di sebuah kamar gawat-darurat rumah sakit harapan kita jakarta, jiwa seniman serba bisa yang telah melahirkan banyak karya monumental, pergi menemui sang pencipta.   sebelumnya, kabar kang harry sakit, saya terima dengan prihatin tapi samasekali tidak menyangka dia akan segera pergi selamanya. selama ini, kita tahu, dia telah dihajar penyakit berkali-kali, masuk rumah sakit berulangkali, tapi penyakit selalu berhasil dia atasi. kesehatan selalu berhasil dia peroleh kembali. saya mulanya juga yakin, kang harry akan sehat kembali. saat itu, teater koma tengah mempersiapkan pentas republik togog.   kenangan saya mengembara ke masa sekitar awal 2003. saya menelpon kang harry waktu itu, dan mengutarakan rencana mementaskan kembali opera kecoa di tempat lakon itu dilarang, gedung kesenian jakarta. dan pementasan itu akan menjadi produksi teater koma yang ke-100. jawaban kang harry, seperti biasa, singkat saja, “siap. kapan saya mulai bekerja?”   lalu kami berlatih. dan opera kecoa dipentaskan pada 4 hingga 19 juli 2003. limabelas hari. dengan penonton tetap membludak. di belakang panggung, dia sempat berucap, “rupanya zaman tidak berubah. kita masih sengsara, masih ditekan oleh kekuasaan. ternyata orang masih butuh katarsis.” biarpun seakan bercanda, kata-kata kang harry selalu cenderung politis. bacalah esei-eseinya di kompas minggu. kalimatnya cerdas, bernas, penuh humor dan nakal, inspiratif. tapi orang sering mengartikannya hanya secara harafiah, tidak mau menukik lebih dalam ke kawasan siratan. agar bisa memahami kang harry, bagaimanapun, kita harus rileks, hati terbuka dan tidak bercuriga.   duapuluh hari bersama di gedung kesenian jakarta, kami serasa mengalami lagi kegembiraan di tahun 80-an. dia tidak berubah, tetap total, kontributif, penuh canda dan tulus. dia begitu gembira dan sering menggoda para pemain yang salah dialog atau tegang dalam menghadapi pertunjukan. tapi selama duapuluh hari itu, dia sempat diserang ‘asam urat’ dua kali. yang pertama tidak terlalu parah, tapi serangan yang kedua membikin dia tidak bisa berjalan. dia  duduk sambil menahan rasa sakit. tapi, dua buah jenis pil yang dikirim oleh kakaknya (seorang dokter dan tinggal di jakarta), berhasil membuatnya normal kembali dalam satu jam. kemudian dia bekerja lagi, mengordinir para pemusik, seakan tak pernah ada rasa sakit akibat serangan ‘asam urat’ itu.   bersama kang harry, adalah hari-hari makan enak. jika saya dan isteri saya, ratna, menyambangi dia di bandung, pasti kami diajak ke warung-warung makan yang punya sejarah. baik karena masakannya enak, atau usianya yang sudah puluhan tahun. pilihannya selalu tepat, seleranya bagus, lidahnya cerdas. kang harry memang tidak bisa dipisahkan dengan perkara makan enak. dia seakan tak peduli, meskipun berbagai penyakit (yang seharusnya membuat dia memilih jenis makanan atau ber-diet) betah bersarang di dalam tubuhnya.   selama hari-hari pementasan opera kecoa di gkj, ada satu makanan yang kang harry sukai, arem-arem namanya. dia sanggup melahap empat buah sekali makan. padahal dua buah arem-arem sudah cukup bikin perut kenyang. kami lalu sepakat menyebut makanan itu, arem-arem harry roesli. itu makanan khas teater koma setiapkali kami berpentas. maka, setiap kali makan arem-arem itu, seketika kami ingat kang harry. dan biasanya, kami akan bilang, “kang harry, arem-arem nih. makan sama-sama ya?” tapi airmata kemudian menyembul di kedua sudut mata, tanpa kami sadari.      opera kecoa 2003, juga dipentaskan di bandung. di gedung teater taman budaya, dago atas, pada tanggal 19, 20 dan 21 september 2003.      siang, minggu, 12 desember 2003, puluhan mobil berjalan perlahan mengikuti mobil jenasah kang harry. iring-iringan mobil berangkat dari jakarta menuju pemakaman keluarga di desa ciomas, bogor. di pemakaman itu, disemayamkan jasad marah roesli, kakek kang harry, sastrawan pujangga baru yang salah satu karyanya, siti noerbaja, tetap dibaca hingga sekarang. jasad ayahanda kang harry, disemayamkan di pemakaman itu pula. hari itu, jenasah kang harry akan dimakamkan berdampingan dengan makam kakek dan ayahandanya.   langit mendung. hujan yang mulanya turun rintik-rintik berhenti seketika saat iring-iringan mobil jenasah lewat. langit terang kembali. yang luar biasa adalah, begitu keluar dari mulut jalan tol, di sepanjang jalan menuju ciomas, masyarakat berdiri di kiri-kanan jalan, menghormati kepergian kang harry. mereka menyebut nama harry roesli dengan penuh hormat. “seperti menghormati presiden yang lewat,” ujar saya dengan airmata bercucuran.   ya. harry roesli memang presiden musik indonesia. dia layak menyandang gelar itu. karya-karya musiknya sangat menggugah, inspiratif dan patriotik.   saya mencari tempat di pojok kerumunan orang di depan mesjid pekuburan. airmata turun tak bisa dihentikan. saya menyerap orasi putu wijaya yang sangat bagus dan menyentuh. putu wijaya kehilangan. saya kehilangan. kami kehilangan. indonesia kehilangan. kehadiran orang yang kita cintai, baru terasa saat dia tidak ada dan pergi selamanya. tapi apalagi yang bisa kami lakukan selain ikhlas? jalan tuhan tak pernah bisa diketahui. hanya bisa sedikit dipahami, dengan ikhlas. mungkin jalan ini yang terbaik untuk kang harry. saya percaya, semoga ada hikmah di balik peristiwa kemalangan ini.   nia, yami, yala, harry roesli tidak mati. dia tetap hidup di dalam batin saya.  sesungguhnya, kang harry sudah menyiapkannya, lama sebelum pergi. dia ingin, kita menghadapi segala perkara dengan bersandar kepada kekuatan lirik yang ikhlas itu, “jangan menangis indonesia ..” ya, saya akan mencoba untuk tidak menangis. harry roesli sudah berbahagia. di surga. amin, ya allah. amin.                                                                               jakarta, 19 maret 2005.

Oh, Cirebon!

bagi saya, cirebon adalah tanah tumpah darah. jika ada yang menanyakan asal-muasal, dengan bangga saya menjawab, “saya dari cirebon.” setiap kali berseminar di luar negeri, saya selalu menyebut, “saya orang indonesia, asal cirebon, itu kawasan di antara jawa tengah dan jawa barat. kami punya bahasa cerbon, yang berbeda dengan bahasa sunda dan jawa.”   meski nenek-moyang asal jawa, saya wong cerbon. saya lahir di rb pamitran, 1949. orang tua tinggal di gudang air, parujakan, sejak 1940. pada 1960-an, kami pindah ke gunungsari, masih parujakan. ayah bekerja di dka (djawatan kereta api). dan ibu, waktu zaman penjajahan jepang, sempat berjualan sayur dan cabe di pasar kagok.   saya ‘diracuni teater’ oleh indra suradi dan sirullah kaelani, dua seniman besar cirebon, sehingga sampai sekarang saya tetap menekuni dunia teater. tapi ‘racun’ mereka tak saya sesali. malah saya syukuri. dua guru teater itu, sukses pula memprovokasi, sehingga, begitu lulus sma, 1967, saya langsung ke jakarta dan kuliah di atni (akademi teater nasional indonesia). di atni, ada seniman hebat: usmar ismail, asrul sani, d. djajakusuma, teguh karya, wahyu sihombing, tatiek maliyati dan pramana padmadarmaja.   pada tahun 1965, saya terlibat kegiatan teater tunas tanah air (tta). toto suprianto -- deklamator handal dan teman sebangku sejak sr hingga sma -- yang mengajak. tta bermarkas di rri cirebon. dan seminggu sekali, anggotanya membaca puisi atau cerpen lewat corong radio. arifin c. noer dan mus mualim, senior saya. sebelum mendirikan teater kecil, arifin kuliah di solo. sedang mus mualim pindah ke jakarta, lalu menikahi titiek puspa.   jarang yang tahu cirebon memiliki empat kraton; kasepuhan, kanoman, kacerbonan dan keprabonan. tapi hingga pindah ke jakarta, saya tetap tak paham mengapa di cirebon ada empat kraton. dan mengapa setiap bulan maulud, keramaian seakan dipusatkan hanya di kasepuhan dan kanoman?   setiap kali ritual panjang jimat diselenggarakan, saya berupaya keras agar bisa melihat dengan jelas pusaka kraton yang akan disucikan. meski begitu saya harus memilih; kasepuhan atau kanoman? dan itu saya lakukan setiap tahun, tanpa bosan. mengherankan. seakan ada sambung rasa, semacam ikatan batin, yang bikin saya (rasanya) wajib hadir saat ritual itu digelar. itulah magi yang magnetis, pertanda aura kraton (saat itu) masih memiliki kekuatan yang mencipta daya tarik.   saya mengenal berbagai bentuk seni pentas lewat keramaian maulid kanjeng nabi, baik di kasepuhan maupun kanoman. wayang klitik, potehi, pertama kali saya lihat di kanoman. juga masres (sejenis lenong atau ketoprak dalam bahasa cerbon), genjring dogdog, cemeng, reog dan tong setan. pada awal teater koma didirikan, 1977, saya menyatakan bahwa; ‘sumber kreatifitas saya adalah teater rakyat cirebon, masres, dengan teknik penyajian teater barat’. tapi banyak yang menyebut saya brechtian (penganut bertolt brecht, dramawan jerman).   meski pengaruh budaya cirebon melekat kuat, saya menyimpan kekecewaan terhadap kebijakan tata kotanya. kekecewaan pertama terjadi saat bagian depan rumah-rumah di sepanjang karanggetas dan pasuketan terbabat habis akibat pelebaran jalan. kabarnya, demi kelancaran bus antar kota. mengapa tak membangun bypass di luar kota? toh, bertahun kemudian, jalan pintas di luar kota akhirnya dibangun juga. tapi korban telah jatuh; arsitektur kuno cirebon nan lentur dan indah bernuansa cina, musnah.   kekecewaan kedua terjadi ketika bangunan-bangunan antik digusur, diganti jadi mal dan swalayan. bangunan langka bergaya art deco, istana siliwangi pagongan, tergusur. dan banyak bangunan berarsitektur kolonial, juga tak berbekas lagi. siapa paling bertanggungjawab terhadap kanibalisme ini?   pada 1995, saya menggarap cemeng 2005, the last primadonna. saya gusar karena, konon, ada peraturan daerah yang melarang seniman rakyat berpentas di jalanan. mereka dianggap mengotori pemandangan kota. saat itu, saya mengira masih ada sekitar 45 bentuk kesenian rakyat di cirebon. tapi nyatanya, yang tersisa cuma 21 kelompok. saya mengundang mereka. sekitar 500 seniman berkumpul di alun-alun kawedanan sidanglaut. festival kesenian rakyat digelar dan saya rekam sebagai bagian dari adegan film.   lewat film itu saya mematok dugaan, ‘jika tak dirawat, tidak dibina secara proporsional dan penuh cinta, maka pada 2005, kesenian rakyat dan seni tradisi cirebon, mati.’ seharusnya dugaan itu ditolak oleh yang berwenang lewat kebijakan ‘pembinaan secara benar harta pusaka cirebon’. untuk upaya perbaikan, masih ada waktu sekitar 12 tahun. tapi cemeng 2005 dituduh mengejek dan pesimistis. lihat sekarang! siapa yang kelak menggantikan abdul adjib? mimi rasina? siapa pengganti mak sawitri? siapa peduli upaya-upaya regenerasi? revitalisasi?        dengan sangat maaf, saya juga harus bilang bahwa kraton-kraton di cirebon terkesan semakin lusuh. kereta paksinagaliman di kanoman dan singabarong di kasepuhan, seolah kian berdebu. terlupakan. memang butuh dana perawatan yang tak murah. tapi siapa yang sesungguhnya harus bertanggungjawab? sebuah pendopo baru dan duplikat kereta kencana, sulit disebut telah berhasil mencipta aura sebagaimana pusaka yang aslinya.   pasar tumpah beringharjo di yogyakarta, berangsur hilang saat gedung sositet baru dibangun. sultan hb x bersabda, dan para pedagang mematuhi. hasilnya? sebuah bolevar asri dan arus lalulintas yang teratur. cirebon? apakah mungkin terjalin kerjasama antara pemda, kraton dan masyarakat? harta pusaka masa lalu yang bersejarah, milik bersama. jika masih sudi menghargai sejarah, seluruh lapisan masyarakat wajib memeliharanya. kenyataan, sejarah adalah hal berharga yang masih bisa kita miliki saat ini. mengapa dilupa? jangan sampai menyesal kelak. oh, cirebon, cirebon!

Pseudo-Teater

kemarin, seorang tukang kritik bilang, saya mulai kehilangan humor. kalah lucu. pentas-pentas saya kian muram. ekspresi pesimisme. kurang greget, tidak menggigit, minim kritik. lebih menyajikan keindahan, perenungan dan metafora. dialog luber, dramatisasi mendominasi. sedikit nian adegan kocak. tak seperti kiprah pada tahun-tahun awal pembentukan. sekedar catatan, usia kelompok teater yang saya dirikan, lebih dari 30 tahun. sekitar 114 produksi sudah digelar di panggung dan televisi.   tunggu dulu! kalah lucu? oleh siapa?   ssst, tengok, di sana! baca! berita media massa plus foto sudah bicara. tren baru muncul. ini dia. ibaratnya, kucing menggigit pejabat bukan berita besar. tapi pejabat menggigit kucing pastilah berita besar. tren itu, mungkin lahir dari kegelisahan reformasi. atau, bisa jadi akibat kejenuhan. misal, karena ketidakmampuan, tak tahu lagi harus berbuat apa, mengingat permasalahan begitu menumpuk. acak-adut. sulit memilah perkara, sukar memilih prioritas. apalagi, setiap saat terdengar teriak nyaring para demonstran di jalan, membuka katup ketidakadilan.    dulu pernah ada gurauan (yang sesungguhnya pahit), bahwa satu grup lawak bangkrut akibat kalah lucu dibanding kekocakan yang diproduksi gedung di sebelahnya. tempat pertunjukan grup lawak itu di senayan. di sebelahnya, berdiri megah gedung wakil rakyat kita. gurauan itu, entah siapa yang memulai, tapi  menyebar, provokatif. kenyataan? tak tahulah. tapi, beberapa waktu kemudian, presiden suharto ‘dihojat’ mantan menterinya di podium gedung wakil rakyat itu pula. sementara, arus kekuatan mahasiswa di halaman gedung mendesak-desak bagai bah.   di penghujung zaman orde baru, para menteri, pejabat tinggi, politikus top dan jendral-jendral, gemar baca puisi. agar dianggap sah sebagai peristiwa kesenian, panitia penyelenggara mengundang satu dua penyair kondang dengan honorarium menggiurkan. acara diselenggarakan di seberang istana merdeka. terkesan, mereka tengah mengingatkan diri sendiri agar lewat puisi, keindahan serta kemanusiaan bisa diserap, dihayati, diamalkan. sehingga, diharapkan, tak ada lagi aktivis yang hilang dan kebiasaan menembaki mahasiswa-demontrans dihentikan.   pejabat gemar baca puisi, mungkin sama nilainya dengan tabiat para pemimpin dunia yang suka berfoto dengan anak-anak. senyum serta sikap polos anak-anak, saat foto dipajang di head line surat kabar, pasti sangat menyentuh. enerji murni mereka  menular, menyatu dengan enerji pemimpin yang ada di dekatnya. secara politis jelas menguntungkan. hitler, mussolini, marcos dan mao ze dong suka melakukan hal itu.     tapi tunggu! tren baru macam mana sih yang terjadi belakangan ini?     mengapa aktor-aktris saya kalah lucu? padahal mereka punya pengalaman puluhan tahun? biasa menghadapi audiens yang pelit respons. bukankah mereka selalu berhasil membikin cair suasana? menggiring lakon rumit ke arah pemahaman yang lebih sederhana? lewat bitter comedy, nyanyian, atau celetukan yang interaktif?   ya, itulah! kini, para pejabat mendadak berani main teater, ketoprak, wayang wong dan lawakan. kiprah di panggung, jadi ajang penampilan yang berbeda. wajah rela dicorengi rias tebal, tubuh dibalut busana unik. tentu itu pengalaman baru. jadwal latihan, bisajadi sekedarnya. dilakukan hanya saat kosong, dan harus dikompromikan. maklum, enerji mereka sangat dibutuhkan masyarakat. jadi, latihan menempati urutan ke sekian. pokoknya manggung. sekedar mampir? mungkin. malah bukan mustahil terbetik niat memanfaatkan teater demi hasrat serta kebutuhan tertentu. tapi kalau didesak, mereka berkilah, “eh, saya cinta seni toneel, lho ..”   bagi pekerja teater yang dedikatif, proses kreatif menuju pementasan jadi hal utama. bisa lama. saya biasa melakoninya sekitar 4 hingga 12 bulan. banyak hal diperoleh dan dipelajari. peran didekati, digali, dihayati, sabar, tekun dan perlahan, lewat berbagai sisi. ada pengetahuan dan skill yang dibutuhkan agar bisa mewujudkan keseniannya. memang ada proses kreatif yang singkat, disebut happening art. ibarat sketsa. lakon tak harus terstruktur. tak perlu pendalaman, yang penting tujuan bisa dipahami audiens. dan peristiwa yang terjadi mampu mencipta makna.   maka, bagi yang sekedar iseng mampir ke wilayah teater, hasil akhir bisa ditebak.  buruk dan konyol. pahit, menyedihkan. jika banyak latihan dan diberi pemahaman terhadap skill serta pengetahuan teater, mungkin hasilnya lain. tapi kritikus segera tahu apa yang terjadi di sebaliknya. lalu? pers antusias memberitakan. tentu karena yang berkiprah para tokoh. ‘kan ibarat pejabat menggigit kucing? media massa tidak keliru. malah janggal jika kegiatan semacam itu tak masuk berita.   o, itulah saat-saat bahagia para petinggi negara. karena mereka bisa melupakan permasalahan masyarakat yang seharusnya segera dituntaskan. bukankah untuk bisa bermain bagus, butuh konsentrasi penuh? itu hukum pentas yang harus dipatuhi.    ada yang bilang, indonesia negara teater. banyak hal, disadari maupun tidak, terkesan seolah terbalik-balik. para pejabat iseng-iseng jadi seniman atau pelawak, sedang seniman dan pelawak coba-coba jadi politikus. lho, masa tidak boleh? bukankah itu tidak hanya terjadi di indonesia? di prancis, penyair andre malraux pernah menjabat perdana menteri, clint eastwood walikota, arnold schwarzenegger gubernur, dan seorang dutabesar amerika serikat mengaku kepada saya pernah bermain dalam drama karya arthur miller, the crucible.         aneh tapi nyata. kita hidup di dunia seakan-akan. teater seakan-akan! para pejabat seakan-akan sudah menyelesaikan pr, padahal permasalahan masih tergantung di awang-awang. belum tersentuh. lebih ajaib lagi jika ternyata mereka semakin betah melawak di panggung, malah terbawa-bawa dalam kegiatan sehari-hari. demikian pula jika para seniman atau pelawak yang iseng-iseng masuk politik lalu berhasil direkrut jadi wakil rakyat, tetap mematung meski minyak tanah kian langka, jalan tol naik tarifnya, kewibawaan merosot di mata dunia, sidoarjo masih tergenang lumpur, korupsi di mana-mana, dan berbagai ketidakadilan terjadi di depan mata.                                                                                                          jakarta, mei 2007.                             (diterbitkan sebagai kolom dalam jurnal indonesia, 2007)

Rendra

pertamakali saya bertemu langsung dengan ws rendra, terjadi pada april  1968. dia baru pulang dari amerika serikat dan membawa oleh-oleh, yang bagi  teater indonesia, boleh dibilang asing. geger tentu saja. goenawan mohamad menyebutnya, ‘teater mini kata’. itulah latihan-latihan dasar teater, yang menjadi sangat menarik ketika dipertunjukkan. memang minim kata, nyaris hanya terdiri dari gerak dan bunyi. meski begitu, pementasannya penuh makna.   waktu itu, saya mahasiswa atni (akademi teater nasional indonesia) dan anggota teater populer. saya sudah melakukan pelatihan dasar teater selama berbulan-bulan tapi samasekali tak tahu kapan bakal naik pentas. teguh karya, guru kami, ikut pentas ‘teater mini kata’ rendra. entah bagaimana asal-muasalnya sehingga dia sampai terlibat. belakangan, rendra mengakui, teguh karya adalah dramawan yang berhasil mempengaruhinya sehingga dia bergiat dalam dunia teater. dua anggota teater populer, sylvia nainggolan dan dewi sawitri (kini doktor psikologi), terlibat pula dalam ‘teater mini kata’ itu.   pentas ‘teater mini kata’, yang digelar di auditorium direktorat kesenian (letaknya di belakang gedung toserba sarinah jalan thamrin) pada april 1968, sungguh memukau. nomor-nomor yang disajikan, antara lain; bipbop, piip, di manakah kau saudaraku, rambate-rate-rata, dan vignet katakana. kiprah para aktor yang mengusung pentas itu begitu inspiratif. rendra, menjadi bintang yang menawan. juga putu wijaya, chaerul umam, amak baldjun, dan syubah asa. ada pula aktor-aktor lain yang tak kalah menarik. dalam sebuah nomor, teguh karya hanya menyuarakan bunyi “zzssszzzz …. zzssszzzz …” saja. dan putu wijaya berulang-ulang mengucap “bipbop .. ” dalam sebuah nomor lagi, amak baldjun pasang konsentrasi penuh dan samasekali tak terganggu, meski chaerul umam dengan berbagai cara coba menggodanya dengan tawa dan tindakan-tindakan yang lucu.   sepulang dari pertunjukan, kami mendiskusikan apa yang barusan diserap. diskusi berlangsung seru. dan, sungguh suatu kebahagiaan, ketika beberapa hari kemudian rendra berkenan mengunjungi tempat latihan kami. teater populer dicap sebagai ‘teater borjuis’. kadang malah disebut ‘teater kaya’. tidak heran, sebab kami berlatih di bali room hotel indonesia. tak jarang, pada siang hari, kami menggunakan madura room atau kelab malam nirwana sebagai tempat berlatih. tapi, dalam berbagai hal, sesungguhnya kami sama miskin dengan seniman-seniman teater lainnya di jakarta. untuk makan siang, kami terpaksa bantingan. dan jatah makan siang masing-masing anggota hanya sebuah bacang ketan isi daging sapi. minumnya, air putih yang dicucup langsung dari keran wastafel hotel. meski begitu, kami tidak marah dengan segala macam ‘ejekan’ itu. kami tengah berusaha untuk berteater. itu cukup.   rendra juga sempat membikin geger jagat deklamasi. dia menyodorkan cara membaca puisi yang ‘sangat biasa’ dan tentu saja berbeda dengan kebiasaan ‘berdeklamasi’ selama ini, yang selalu dilantunkan secara ‘dramatis’ dan patos. tapi harus diakui, cara rendra membaca puisi adalah cara yang kemudian ditiru oleh banyak pembaca puisi di seluruh indonesia. hingga kini. mengapa? karena cara rendra membaca puisi, begitu indah dan melodius. dia seakan tengah menyanyi. dan gayanya, betul-betul memukau. menyihir para pemerhati.   dalam pertemuan di tahun 1968 itu, rendra mengajak kami melatih tubuh dan jiwa lewat nomor latihan yang dia sebut ‘gerak kalbu’ atau ‘gerak indah’. beberapa waktu kemudian, sardono w. kusumo, yang juga baru pulang dari amerika serikat, berkunjung pula ke tempat kami berlatih. dia menyajikan cara berlatih yang nyaris serupa. intinya, dengan mengambil tema tertentu, tubuh bergerak karena dorongan jiwa. gerak bisa distimulasi oleh suara musik atau bisa juga oleh ‘suara jiwa’ kita sendiri. sama sekali tak ada pola gerak. seluruh gerak terjadi secara spontan. begitu saja. yang pokok, dimulai dengan konsentrasi penuh dan jujur. itulah metoda ‘latihan tubuh dan jiwa’ yang, bagi kami, boleh dibilang baru. kami melakukannya dengan sungguh-sungguh.    rendra bicara detil mengenai ‘sikap berteater’. dia juga mengungkap tentang pemberontakannya terhadap tradisi dan kebiasaan. jakob soemarjo, dalam bukunya, perkembangan teater modern dan sastra drama indonesia, (penerbit stsi press, 2004), menulis; “bip bop pada dasarnya adalah manifestasi pemberontakan rendra terhadap tradisi dan kebiasaan. ‘kalau orang mempertahankan kebiasaan sebagai sesuatu yang absolut, orang itu memihak kepada kematian’ ujar rendra. kata-kata itu juga diulanginya lagi ketika pementasannya di seni sono yogya dilempari batu oleh penonton.” rendra teguh mempertahankan pandangan mengenai pembaruan dalam seni teater. diskusi yang terjadi pada 1968, berjalan begitu asyik. saya sangat terkesan.   pengaruh ‘gerak kalbu’ atau ‘gerak indah’, luar biasa. tak bisa dipungkiri, produksi pertama teater populer yang berjudul tjahaya untuk pahlawan, jelas diilhami latihan nomor-nomor ‘gerak indah’. pentas berdurasi 20 menit, yang digelar pada akhir agustus 1968 di bali room hotel indonesia itu, mengawali pemutaran film sembilan karya sutradara wim umboh. para aktor teater populer yang terlibat dalam pentas itu, antara lain; dicky zulkarnaen, mieke wijaya, slamet rahardjo, n. riantiarno. harijadi teater populer memang dipatok pada 14 oktober 1968, pas pentas ghost karya ibsen dan antara dua perempuan di balai budaya jakarta. tapi, bagaimanapun, tjahaya untuk pahlawan adalah pentas pertama teater populer. dan dalam banyak hal, pengaruh ‘gerak kalbu’ rendra amat terasa.   setelah bip bop, rendra pulang ke jogyakarta dan berkiprah bersama bengkel teater yang dia dirikan. tapi, teaternya dicap oleh penguasa sebagai kegiatan yang berbobot politik dan membahayakan stabilitas nasional. ‘rendra berpolitik lewat puisi dan teater’, begitu pandangan para penguasa yang mulai cemas. teater populer pun mulai menggelar banyak pementasan. arifin c. noer, hijrah dari solo ke jakarta dan mendirikan teater kecil. sedangkan suyatna anirun, melanjutkan kiprah jim adilimas dan menjadi motor utama penggerak kegiatan studiklub teater bandung. “akhir tahun 1970-an hingga 1980-an, adalah zaman keemasan teater modern indonesia”, tulis jakob soemardjo pula.   dalam novel cermin bening, yang merupakan ‘trilogi cermin bagian dua’,  saya menulis; “aku mempelajari pentas-pentas bengkel teater yogya. pemimpinnya, ws rendra, selain penyair juga dianggap sebagai pemuka kaum muda yang anti kemapanan. sepulangnya dari amerika serikat, rendra menggebrak dengan berbagai eksperimen. dia membongkar bentuk, isi dan konvensi (aturan), lalu menyajikan nomor-nomor gerak (dan bunyi). bentuk itu kemudian disebut teater mini kata. bunyi ‘bipbop’ diucap oleh  para aktor. gerak lebih mendominasi. pengaruh rendra di kalangan anak muda semakin besar. dia menjadi idola. kritik-kritiknya pun tambah berani dan sindiran politik dalam setiap pementasannya selalu bikin merah kuping pihak penguasa. sebagai akibat, kegiatan kesenian rendra diawasi aparat dengan sangat ketat.” (cermin bening, n. riantiarno, halaman 203, penerbit grasindo-2005).   sebelum berangkat ke amerika serikat, 1963, rendra berhasil mementaskan karya eugene ionesco, the chair, yang dia sadur menjadi kereta kencana. dia juga mementaskan odiphus karya sophocles. sepulang dari amerika, 1967, dia lebih menggebrak lagi lewat pentas-pentas yang menggigit.   yang menarik, setelah bip bop, rendra kembali mementaskan teater yang bersumber dari naskah. dipentaskannya isteri yahudi, informan dan mencari keadilan, ketiganya karya bertolt brecht yang dia terjemahkan. dia juga menggelar drama-drama yang sarat teks, antara lain; pentas-ulang oidipus, hamlet karya shakespeare, dan menunggu godot karya samuel becket.   bentuk (kemasan) pentas bengkel teater, baru mengalami perubahan yang signifikan ketika kasidah barzanzi, macbeth, dunia azwar dan lysistrata digelar. warna lokal jadi bungkus utama pergelarannya. dan kekentalan ‘warna lokal’, semakin memancarkan daya-tariknya ketika rendra mementaskan karya-karya sendiri, antara lain; mastodon dan burung kondor, perjuangan suku naga, sekda, panembahan reso, dan selamatan anak cucu sulaiman. ketika hamlet dan kasidah barzanzi dipentaskan-ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang kental dengan warna lokal. meski siratan isi lakon tetap sama.   dalam perjuangan suku naga, sekda, dan panembahan reso, bentuk teater rakyat, ‘ketoprak’, dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. pada macbeth, (juga hamlet pentas-ulang), rendra bahkan ‘berani’ menggunakan sarung sebagai pelengkap busana. ini luar biasa. dan, konon, belum pernah dilakukan seniman teater lain di indonesia. hal itu, terutama, karena william shakespeare dianggap sebagai pujangga agung yang karyanya tidak boleh diobrak-abrik. tapi rendra berhasil menafsirkan kembali, dengan cemerlang. segera saja, rendra menjadi ikon. dia seakan living-legend dan trendsetter yang berhasil memberi daya-hidup bagi dunia teater (dan puisi). lewat kiprah rendra, teater menjadi sangat presitisus dan ‘berharga’. teater (dan puisi) tak lagi hanya dipergelaran bagi sekelompok kecil orang saja, melainkan sudah menjadi milik masyarakat yang lebih luas. teater (dan puisi), juga mulai diperhatikan oleh kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisa mempengaruhi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. ini perkembangan yang menarik dan penting.    dan kepada rendra, saya berguru.     saya telah berguru kepada seniman-seniman besar. dalam hal penulisan, saya berguru kepada asrul sani, arifin c. noer dan goenawan mohamad. tapi dalam perkara teater, guru saya adalah teguh karya dan rendra. memang saya belajar langsung kepada teguh karya, yang juga mengajari cara mempertahankan daya-kreatif dalam kehidupan yang semakin kompetitif. saya memetik dasar pelajaran manajemen kehidupan kreatif dari dia. tapi, cara bagaimana membangkitkan daya-hidup serta mempertahankan stamina dalam gejolak arus zaman serta menyiasati kemusykilan politik kebudayaan dalam pemerintahan yang otoriter, saya banyak menyerap dari apa saja yang dilakukan rendra. saya mempelajari rendra secara tidak langsung. itu kenyataan. makin hari, hal itu semakin sulit saya pungkiri.    saya mendirikan teater koma pada 1 maret 1977. hal itu terjadi, ketika teguh karya dan arifin c. noer semakin dilibat urusan film, dan kegiatan kesenian rendra mulai dihambat-hambat oleh penguasa orde baru. saya berniat mengisi kekosongan kegiatan teater yang semakin tersendat-sendat. pentas perdana saya berjudul rumah kertas, 1977, masih menyiratkan pergulatan antara dua bentuk; realisme dan impian untuk menyajikan sesuatu yang berbeda dengan kiprah para pendahulu teater indonesia, baik bentuk maupun isi.   lalu, pada 1983, oleh para kritikus teater, pentas teater koma berjudul opera ikan asin (saduran dari karya bertolt brecht, the three penny opera), konon dianggap telah menyajikan suatu perubahan bentuk dan isi. rendra berkenan menonton dan menemui saya di belakang panggung. waktu itu, dia hanya mengucap satu kata, “bagus.” tapi, pujiannya itu, langsung membikin saya berbesar hati. meski jalan masih panjang, kini, saya memulai sesuatu yang berbeda. pentas teater saya dianggap penuh sindiran politik. padahal saya menyebutnya hanya sebagai ‘keterlibatan terhadap berbagai problema sosial’. tindakan kreatif yang bersumber dari keprihatinan, sociological concern.   rendra masih berkenan menonton teater koma, hingga opera kecoa, 1985. kemudian, tibalah masa-masa gelap itu. sampek engtay dilarang pentas di medan, 1989. pergelaran suksesi di jakarta, distop polisi pada hari ke-sebelas, 1990. dan opera kecoa dilarang naik pentas di jakarta, 1990, sekaligus dilarang pula berpentas di empat kota di jepang, 1991.  ada satu cerita. mungkin rendra belum tahu dan rasanya penting pula diungkap. pada suatu malam, 1991, setelah pelarangan pentas yang beruntun itu, teguh karya datang ke sanggar teater koma. dia tersedu-sedu dan berujar, “mengapa mengikuti jejak rendra? mengapa ikut-ikutan berpolitik? sekarang ini, orde baru masih sulit dilawan. tindakanmu ibarat membentur gunung. lihat sebagai akibat! kegiatan teatermu dilarang, dan akan terus diawasi ..”   saya termangu. teguh karya, orang baik. dia memandang semua yang terjadi lewat kacamata opitimisme, bahwa segala sesuatu akan berubah dengan sendirinya. karena alam sudah mengaturnya. selama ini, kegiatan teater populer memang tak pernah bersinggungan dengan politik. kalaupun ada, mungkin itu yang disebut sebagai ‘politik kemanusiaan’. tapi, saya yakin, dia mengucap kata-kata itu, bukan dengan ‘kemarahan’, melainkan prihatin karena kemalangan beruntun telah menimpa muridnya. dia langsung bisa melihat, betapa besar pengaruh rendra terhadap saya. itu kenyataan. tapi bagaimanapun, dia sangat respek terhadap rendra. malah mengaguminya.   saya tidak menyanggah. tapi dalam hati saya mengucap, “segala pikiran dan tindakan yang saya lakukan adalah pilihan. dan pilihan dalam berteater itulah yang menjadi jalan-teater bagi saya. saya harus mempertanggungjawabkan apa pun yang sudah saya lakukan. karena saya sudah memilih. saya harus meyakini pilihan itu. dan saya siap menanggung segala resikonya.”   teguh karya seniman besar yang waskita. tanpa saya ucap, agaknya dia tahu apa yang ada dalam benak saya. lalu, sambil menahan tangis dia berkata lagi, “sudahlah. apa yang terjadi, hadapi dengan tenang. saya mendukung apa pun yang kau lakukan lewat teater. tapi, semua yang saya punya, sudah habis kau serap. sekarang ini, rendra mungkin patut jadi panutan-mu. hati-hati. jalanmu masih panjang, masih sangat jauh. jangan sampai kesasar.”   kata-kata teguh karya, tetap saya simpan dalam kalbu. hingga kini.   pelarangan suksesi dan opera kecoa, juga pelarangan pentas puisi rendra, mendorong para seniman pergi ke dpr-ri untuk memprotes, 1991. di dalam hearing di ruang sidang pleno dpr-ri, saya dan para seniman bergiliran bicara. radhar panca dahana, sebagai wakil seniman muda, bicara pula. dia cerdas. dan, rendra membaca puisi dengan sangat-sangat bagus. indah. memukau. itulah pembacaan puisi terbagus yang pernah saya saksikan. para seniman juga pergi ke kantor menkopolkam sudomo di jalan merdeka barat. lagi-lagi, rendra menjadi bintang cemerlang yang mampu menyihir audiens.   terus terang, saya memang pernah ‘marah’ kepada rendra. waktu itu, saya menganggap rendra sudah mulai berkompromi dengan konglomerat. tapi ‘kemarahan’ itu tidak saya lakukan dengan benci. justru terbit karena terlalu mencinta. itu bisa diibaratkan sebagai ‘kemarahan’ yang timbul dari rasa cinta seorang murid kepada gurunya. mungkin saya keliru. entahlah. rendra kini, 2005, 70 tahun (lahir di solo, 7 november 1935). berbagai tindakan bermakna dan inspiratif telah dia lakukan. dia pernah dipaksa hidup dalam kemiskinan, terlunta, tanpa uang, seakan tidak memiliki masa depan pula. tetapi daya hidupnya tak pernah padam. dia memang pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang pemenang.   rendra, seniman besar yang kharismatik. tak salah lagi. dia milik kita, milik indonesia, yang tak ternilai harganya. dia permata mulia. pikiran-pikirannya jernih dan tajam. dia selalu mengungkap apa yang dirasa, tanpa jengah, tanpa rasa takut. dengan sikap seperti itu pula dia pernah dicekal dan dipenjara. tapi dia tak pernah jera.   rendra adalah guru. empu yang mumpuni. hingga kini dia terus mengkontribusi  berbagai pikiran bernas. kita seharusnya bersyukur memiliki dia.   selamat harijadi, mas willy. semoga karunia allah swt senantiasa menjadi berkah yang tak berkesudahan. panjanglah usiamu. murah rezeki. pantang pensiun. tetap berkarya. tetap mencintai indonesia, teater dan puisi. amin. selamat  dan juga terimakasih sebesar-besarnya kepada mbak ida, yang telah menjaga mas willy dengan sangat baik.   dari lubuk hati paling dalam dan tulus, mas willy, saya sangat berterimakasih kepadamu. dan saya mohon maaf atas kekeliruan di masa lampau itu. saya, ratna dan teater koma mencintaimu, selalu.   jakarta, 29 september 2005.

Rudjito, Sang Maestro

apa yang anda ketahui tentang rudjito?   dia selalu siaga membantu tanpa diminta. dan dia memiliki kemampuan membantu, bukan hanya dalam hal penataan artistik tapi juga dalam segala perkara artistik pemanggungan. dia penasehat saya dalam banyak hal.   menurut anda siapakah rudjito itu?   dia sahabat, kakak, guru dan pemandu yang tak kenal lelah. dia sumber informasi segala urusan artistik-teater, dan berbagai sisi kehidupan yang oleh saya kadang terlewatkan. dia bisa diibaratkan api yang memberi daya hidup inspirasi-insiprasi. kehadirannya, bisa membikin hati sejuk dan menambah keyakinan diri. dia lebih sering memberikan nasehat lewat tindakan. saya harus pandai-pandai menyerapnya. kata-kata rudjito senantiasa bersayap. kadang sulit dipahami, tapi tentu saja bernas. dia penyabar, tak kenal lelah. seperti angin, dia datang dan pergi tak pernah jelas jadwalnya. tapi dia selalu hadir tepat saat dibutuhkan. dengan bijak dia memaksa saya tak lelah mengasah kecerdasan dan daya inisiatif. dia mengamati perkembangan seni pertunjukan di indonesia, baik seni pentas rakyat, tradisi, maupun kontemporer. dia hadir di mana-mana, hingga ke peloksok-peloksok, untuk berdialog dan bekerja. dia memang guru, meski tak pernah menggurui. dia empu.   kapan pertama kali jumpa dengan rudjito, waktu itu dia sebagai apa?   dia senior saya di atni (akademi teater nasional indonesia). saya ketemu dia pertamakali di penghujung tahun 1968-an. waktu itu, dia dikenal sebagai pelukis tanpa lukisan, dan sudah mengerjakan penataan artistik panggung berbagai pementasan di jakarta.   bagaimana perjalanan rudjito dalam dunia pertunjukan?   boleh dibilang, rudjito adalah bapak penataan artistik pentas indonesia. dia menangani penataan pentas, hampir seluruh grup teater di indonesia. bengkel teater rendra, teater mandiri putu widjaja, teater kecil arifin c. noer, teater koma n. riantiarno, mengawali kegiatan bersama dia. rudjito juga pemandu artistik bagi hampir seluruh kelompok teater remaja, khususnya di jakarta. kepadanya orang teater sering bertanya. pengetahuannya luas, bacaannya banyak, pengalamannya segudang. dan dia tidak pelit berbagi ilmu pengetahuan. dia menyukai anak-anak muda yang tak malu bertanya.     konstribusi apa yang telah disumbangkan rudjito terhadap perkembangan seni pemanggungan di indonesia? adakah kehadiran rudjito dalam seni pertunjukan di indonesia membawa genre atau gaya penataan baru?   ada masa-masa di mana bentuk pemanggungan teater indonesia menyiratkan apa yang diyakini rudjito. murah karena menggunakan bahan yang ada, minimalis, bermakna, memiliki kedalaman. sederhana itu indah, demikian rudjito sering bilang. hitam itu indah. kain plastik, memiliki kekayaan dan sanggup menyiratkan berbagai makna. bambu bisa lentur jika diberi peran yang pas dan cocok. tali, mampu mencipta berbagai imajinasi. cahaya tidak perlu obral. bisa selektif dan efektif. kosong, memiliki berbagai kemungkinan penciptaan kekayaan imajinatif. imajinasi perlu diberi ruang yang lebih luas. apa yang hadir di atas pentas, sebaiknya bukan kelengkapan realistis yang diobral, seakan kepada audiens kita menyodorkan segala yang dibutuhkan di atas baki. harus ada ruang yang bisa dibawa pulang, dan menjadi wacana atau pintu menuju diskusi personal. sebuah upaya pencarian dari inti permasalahan yang memberi kemungkinan untuk lebih mengasah stamina dan daya hidup.   saya menganggap, kehadiran rudjito sangat berharga bagi teater indonesia yang hingga kini tetap saja miskin dalam berbagai hal.   apa yang khas dari rudjito, baik ini secara personal maupun hasil karyanya menurut anda?   kosong itu kaya dan bermakna. kita memulainya dari kosong. dari kosong gerak kehidupan tercipta. diam itu sunyi, tapi justru memiliki daya yang membuat kita lebih berbahagia. bekerja adalah ibadah.   rudjito, dianggap sebagai master penata panggung di indonesia. apakah anda sepakat dengan pernyataan tersebut? tolong dijelaskan.   saya sangat sepakat. penjelasan di atas, saya kira, cukup menyiratkannya.   sebagai sutradara dan beberapa kali anda pernah bekerja sama (sebutkan berapa kali dan dalam lakon apa), apa yang diberikan rudjito terhadap sebuah lakon selain konsep penataan panggung?   saya meminta bantuan rudjito pada pentas pertama teater koma, rumah kertas, yang digelar di teater tertutup pusat kesenian jakarta, taman ismail marzuki, pada 2-3-4 agustus 1977. sejak itu dia menangani penataan artistik, skenografi, teater koma, antara lain, maaf.maaf.maaf. (1978). j.j (1979). kontes 1980, dan opera julini (1986). dia juga konsultan artistik satu-satunya film layar lebar yang saya garap pada 1995, cemeng 2005, the last primadonna. dia penasehat spiritual saya, hingga akhir hayatnya. dan dia salah satu pendiri teater koma. ketika rudjito meninggal dunia, saya sangat kehilangan. kami semua kehilangan.       ceritakan pengalaman anda bekerjasama dengan rudjito.   saya meminta bantuan dia untuk menangani artistik rumah kertas, 1977. saya datang ke rumahnya di bilangan menteng. dia terbaring sakit, tapi sabar mendengarkan, tekun dan penuh perhatian. saya menginginkan penataan artistik yang realistis. saya bicara soal got, sungai kecil yang keruh, jembatan, gunungan sampah dan gubuk-gubuk perkampungan kumuh. saya berharap, semua benda itu hadir di atas panggung, tapi bingung, karena tak tahu cara menangani set-dekor yang begitu ruwet. dan biayanya, tentu mahal.   usai saya menjelaskan, dia bangkit dari tempat tidur. dia mengambil kertas dan spidol warna-warni. kesegaran telah dimilikinya kembali. sakit lenyap. dia sangat bersemangat. dia membikin sketsa, mencoret-coret area pentas dan konsep cahaya (sketsa rudjito itu masih saya simpan, menjadi dokumentasi yang sangat berharga). tindakannya itu langsung menyadarkan saya, betapa imajinasi ternyata memiliki daya pukau yang luar biasa. tak harus ada got, sungai kecil keruh, jembatan, gunung sampah, perkampungan kumuh dan benda-benda lain di atas pentas. semua bisa berawal dari imajinasi. permainan para aktor jadi primadona yang utama. saya malu. karena waktu itu, samasekali tak terpikirkan. seketika, saya mengagumi rudjito yang tetap mampu menghadirkan benda-benda yang saya inginkan, meski hanya dalam imajinasi. konsep lampu yang dia cipta, sangat prima. berhasil memberi penekanan pada peristiwa lakon dan suasananya.   sejak itu, jika saya meminta bantuan dia, saya hanya membicarakan apa yang ada di dalam benak. impian, tematik, tujuan utama penggarapan pentas, goal dan harapan. intinya, saya hanya mengungkap apa yang ingin saya ‘katakan’ lewat pentas. dan dia selalu berhasil menafsir impian-impian saya dengan sangat indah serta bermakna.

Teater 100 Kursi

lalu, jarak pun hilang pemain dan penonton menyatu dalam sebuah peristiwa    karcis di tangan, lalu kita masuk gedung teater sebagai penonton. lampu auditorium meredup, padam, layar membuka. di panggung, adegan demi adegan berjalan hambar seakan tanpa urat dan darah. kita duduk kikuk di kursi. gelisah tapi tak bisa berbuat apa-apa. suasana yang memaksa kita menjadi ‘resmi’, sungguh amat sangat menyiksa. batuk, dehem, pendeknya bunyi ataupun gerak, adalah tabu, apalagi komentar spontan, celetukan.   haruskah kikuk, gelisah dan tersiksa? lalu panggung pun menjadi semacam etalase yang samar, jauh, tak terjangkau. ada jarak yang tegas, yang membuat garis pemisah antara penonton dan pelakon. bukan sebuah peristiwa yang hidup, yang sedang kita tonton, melainkan telop demi telop dilengkapi dengan keterangan gambar berupa dialog-dialog tegang. lalu di mana tempat pelakon? di sebelah mana penonton berhak menempatkan diri?   sebuah karcis tanda masuk, bukan hanya sekedar karcis, tapi di dalamnya terkandung berbagai harapan. karcis yang diperoleh seharusnya bukan paksaan melainkan kebutuhan. dan para pemegang karcis, tidaklah harus menjadi korban keinginan egoistis dari para pembuat lakon, para pembuat pertunjukan itu. harus ada komunikasi, yang terungkap lewat visi dari si pembuat lakon, bentuk pengucapan/ekspresi serta upaya mengajak serta penonton untuk ‘masuk’ ke dalam peristiwa lakon, menjadi bagian dari lakon. dan menikmati. hidup di dalamnya.   kesenian, seperti juga ilmu pengetahuan dan agama, adalah ‘hiburan’ bagi kita dan membikin hidup menjadi lebih punya makna, lebih punya nilai. teater memiliki fungsi dasar seperti itu pula. tentu ada yang ingin diucapkan lewat teater, ada yang ingin disampaikan. bisa dipahami pada masa kini atau kelak, bukan soal. sebuah karya yang baik, tetaplah akan baik untuk kapan pun. ia akan sanggup menembus zaman, agama, geografi, maupun ras. ia akan universal, sebab ukuran yang dipakai dalam menikmati karya seni adalah rasa dan bukan melulu pikiran. pikiran, terlebih lagi, rasa, tidak mungkin bisa dibelenggu. ia sebebas langit.   saya menyadari lama, jauh sebelum saya membentuk kelompok teater koma. perkumpulan kesenian ini tidaklah harus menjadi barang asing bagi masyarakatnya. teater koma harus akrab, intim, luwes dan tentu saja menghibur. seperti sebuah pohon, masyarakat adalah tanahnya. atau bagai ikan, masyarakat adalah airnya. tanpa tanah ataupun air, pohon dan ikan tak mungkin bisa hidup.   dengan sikap seperti itulah, teater koma, alhamdullillah, masih bisa bertahan hingga kini. dengan penggemar yang tidak kurang, meski bukannya tanpa kritik. kami tak habis mengucap terimakasih kepada masyarakat. terimakasih kepada mereka yang menonton, kritikus atau mereka yang hanya mendengar atau membaca kegiatan kami, simpatisan serta sahabat yang tak bosan memberi masukan sehingga kami tidak merasa sendirian.   setelah melewati usia sebelas tahun, kemudian saya menyadari, haruslah ada motivasi baru, sasaran baru yang membuat kiprah jadi lebih semarak. lewat berbagai diskusi dalam kelompok maupun dengan beberapa sahabat di luar kelompok, akhirnya saya mengambil satu kesimpulan, bahwa, teater koma harus memiliki basis kegiatan yang tetap. bukan sekedar tempat latihan, tapi sebuah bangunan teater, sebuah gedung pertunjukan!   gedung pertunjukan? bukankah itu mustahil? dana untuk mencapai keinginan seperti itu tentu tidak kecil. bagaimana mungkin?   lama saya menimbang-nimbang apakah keinginan seperti itu memang benar-benar mustahil. lama saya membuka-buka buku dan membaca sejarah teater, indonesia maupun dunia. bagaimana broadway bisa dikelola dengan baik. bagaimana west end seakan tidak pernah kekurangan penonton. bagaimana grup-grup teater di jepang sebagian besar memiliki gedung pertunjukannya sendiri. bagaimana sebuah grup teater di prancis memiliki gedung teater hanya dengan kapasitas penonton 70 kursi tapi berhasil memanggungkan the chair karya eugene ionesco hingga lebih dari 20 tahun. bagaimana kelompok miss riboet orion dan dardanella dan bintang soerabaja ataupun grup-grup opera pada 1920-an sanggup menjamin hidup para anggotanya. atau yang paling kongkrit di depan mata (meski lintang pukang dan ngos-ngosan): srimulat, wayang orang bharata dan miss cicih.   tidak, sesungguhnya tidak mustahil. kita memiliki tradisi dardanella, miss riboet orion, bintang soerabaja. penonton teater sudah terbina sejak masa-masa itu, kemudian dilanjutkan oleh atni di tahun 1960-an, teater populer bersama teguh karya, teater kecil dan rendra. apa yang disebut impresario sudah ada sejak tahun 1920-an di jawa dan sumatera.   dengan kata lain, profesionalisme sebetulnya sudah pernah jadi milik kita. lalu mengapa hal itu kemudian seperti mati angin dan tidak berlanjut? apakah orang-orang teater masa kini tidak lagi punya grengseng untuk mempelajari pengelolaan teater di masa lampau itu? dan cukup puas hanya dengan kegiatan sesekali saja? inilah yang sebetulnya menjadi masalah utama teater indonesia saat kini.   teguh karya, guru saya yang terhormat, pernah pada suatu ketika mencetuskan keinginannya untuk membuat teater dalam gang. cukup dengan 200 kursi saja, katanya. itu sekitar tahun 1970-an. tapi hingga kini, keinginannya itu tetap tinggal keinginan, seakan gaungnya sudah lenyap tanpa bekas. joni gudel pernah pula diberi sebuah gedung bagus di kawasan monas, jakarta, untuk dikelola begitu dia hengkang dari srimulat. tapi itu pun tidak berkesinambungan lagi. barangkali lantaran joni gudel hanya mengandalkan lawakan, dan ketika masyarakat sudah bosan dengan model lawakannya, mereka akan mencari sesuatu yang lain, lalu joni gudel pun ditinggalkan.   saya bersama teater koma, akhirnya sampai pada niatan untuk mewujudkan satu soal yang sangat sulit tapi menggoda itu; sebuah teater dengan kapasitas 100 kursi, yang saya beri nama teater 100 kursi.   melihat jumlah penonton teater koma pernah mencapai 16.000, hal itu tidak menjadi terlalu mustahil. tinggal lagi, ini yang paling utama, bagaimana cara mendapatkan modal serta izin dari pemda dan dari mana dana bisa diperoleh. teater koma bukan kelompok yang kaya. sampai saat ini, aset yang kami miliki hanyalah semangat, kekompakan dan pengalaman 11 tahun mengelola pementasan teater.      bagaimana cara kami nantinya menangani teater 100 kursi itu? dengan cara mengajak penonton menjadi anggota tetap yang membayar iuran. jika anggota kami cuma 1000, pentas pun akan digelar hanya dalam 10 malam. tapi kalau anggota yang terjaring berjumlah sekitar 1500, pentas akan menjadi 15 malam. begitu seterusnya. frekuensi pementasan per tahun, akan ditentukan berdasarkan jumlah anggota penonton. yang menarik adalah, setiap usai pertunjukan, selalu ada kesempatan untuk saling bertemu; antara pelakon dan penonton, dengan sedikit jaburan serta minuman ringan. kita bisa diskusi, ngobrol ringan atau sekedar bertemu saja. dengan cara semacam itu, diharapkan, kami bisa saling mengenal.   pusat kesenian jakarta/tim ataupun tvri, tidak akan kami tinggalkan, sebab kami selalu merasa di dua tempat itulah kami dibesarkan. kami akan tetap membikin produksi untuk tim dan tvri. dan kini, bukankah kami juga memiliki gedung kesenian jakarta sebagai wadah berekspresi?   apakah keinginan memiliki teater 100 kursi adalah sesuatu yang mustahil? tidak, jika akhirnya kami menemukan seorang donatur atau maesenas yang bukan saja kaya tapi juga memiliki niat yang sama dengan kami, bahwa teater indonesia memang sudah saatnya dikelola secara profesional dengan kegiatan yang ajeg, dan para pekerjanya bisa hidup dari hasil kerjanya.   hingga kini, kami belum menemukan orang yang tepat untuk menunjang impian itu. atau, anda barangkali?                                                                                    jakarta, maret 1988.       (dari tulisan dalam katalog opera primadona, teater koma 1988)