tes

Teater Koma Persembahkan Lakon Mahabarata: Asmara Raja Dewa

Jakarta, kompas.com - teater koma, kembali menggelar pementasan terbaru bertajuk mahabarata: asmara raja dewa di graha bhakti budaya, taman ismail marzuki 16-25 november 2018.teater koma mengangkat kisah kehidupan dewa dan wayang. pentas kali ini juga merupakan pembuka bagi semesta lakon-lakon mahabarata lainnya.lakon kali ini mengisahkan tentang raja dewa, batara guru, dalam menjaga kedamaian tiga dunia: mayapada (dunia atas), madyapada (dunia gelap), dan marcapada (dunia bawah), yang diusik oleh penghuni dunia gelap."ini lakon lama, kisah lama, tapi masih sangat memikat. ini lakon para dewa dan kemudian lakon penciptaan manusia. genesis. lakon ini tidak masuk kepada pakem. ini lakon yang sumbernya bisa dari mana saja, maka tak heran jika kali ini tanah batak, bugis, toraja, bali bahkan yunani, mesopotamia, dan afrika menjadi sumber yang mampu menciptakan berbagai jenis seni dan daya kreativitas manusia", tutur n. riantiarno, penulis naskah dan sutradara teater koma. editorroderick adriansumber : www.kompas.com

42 Tahun TEATER KOMA

Usia kami 42 tahun kini. berkat bantuan dan dukungan semua orang, kami bisa sampai di sini. terima kasih sebesar-besarnya kami ucapkan kepada anda sekalian. semoga bisa terus berkarya.

Rapat Produksi "GORO-GORO"

Rapat produksi di sanggar teater koma untuk lakon "goro-goro" yang rencananya akan pentas sekitar juli s.d. agustus.

Teater Koma's 'Gemintang' is a love story set in a corrupt country

Legendary theater troupe teater koma returns with its 153rd production, gemintang (constellation). helmed and penned by nano riantiarno, it will run from june 19 to july 8 at graha bhakti budaya in taman ismail marzuki (tim), central jakarta. gemintang follows the interplanetary love between arjuna wibowo (rangga riantiarno), an astronomer working in west java, and ssumphphwttsspahzaliapahssttphph, also known as sumbadra (tuti hartati), an alien from the planet ssumvitphphpah located 12 billion light years from earth. despite of their differences, arjuna wants to introduce sumbadra to his family and marry her. he is persistent although his family may not be able to see or hear sumbadra. the characters of "gemintang" include (from left) niken, samudra, wibowo, sakiro and subrat. (jp/wienda parwitasari) arjuna himself comes from a money-oriented family. his father, wibowo surmadjo (budi ros), is a corrupt politician, but he is rich enough to bribe his way out of getting caught. meanwhile, arjuna’s mother, astini (daisy lantang), is a housewife who relies on her husband’s wealth. arjuna also has two siblings: one older brother, samudra (bayu dharmawan saleh), who follows his father’s footsteps; and one younger sister, pratiwi (bunga karuni), who excels in high school and opposes her father’s wrongdoings. wibowo also has a second wife, niken (ina kaka), who helps him with his corruption. moreover, sakiro (salim bungsu) and subrat (joind bayuwinanda) are wibowo’s relatives who often give him absurd advice. read also: teater koma to debut science fiction playperformed from june 29 to july 8, "gemintang" is a story about love and corruption. (jp/wienda parwitasari) one day, sakiro predicts that wibowo will be caught by the authorities and, at the same time, sumbadra agrees to visit arjuna’s family. will arjuna’s plan to be with sumbadra go well? will wibowo eventually be caught by the police? gemintang is teater koma’s first foray into science fiction and one that it has done well, for instance by transforming the venue into an imaginary observatory and using holograms on stage. the play is also shorter than its usual productions, with a run time of three hours with a 15 minutes break. but for those who are interested in seeing more of arjuna and sumbadra’s love story may need to be patient, especially in the first act, as the play mainly depicts arjuna’s family and how dysfunctional it is instead of focusing on the relationships between arjuna and sumbadra. meanwhile, if you are keen on hearing criticisms about presidents and a corrupted politician, those are provided in the first act. it feels, however, as if some scenes are missing from the play and that it may be better to include more scenes to deliver even more powerful message to the audience. sakiro (left) and subrat, two characters in "gemintang", tease the audiences with an imaginary country named hindanasasa. (jp/wienda parwitasari) furthermore, those who watched the troupe’s warisan (the legacy) play ( 2017 ) may be familiar with sakiro and subrat as members of a retirement home for the rich. although they were played by different actors, sakiro and subrat still tease the audience by talking about many satirical topics, including an imaginary country named hindanasasa. if you pay attention, the name hindanasasa is often referenced in teater koma’s plays and is the one thing that connects them. it is a way for director n. riantiarno to share his criticism of the country’s current issues, which still revolve around corruption, poverty, social gaps and weak authority figures. “as long as corruption still exists, i will still talk about it,” nano told the post after the show. (mut)ni nyoman wira sumber: www.thejakartapost.com

Pementasan Ke-150, Teater Koma Mengakhiri Kisah Sie Jin Kwie

Liputan6.com, jakarta teater koma merupakan organisasi teater yang namanya sudah melambung di dunia teater. penampilan mereka dalam menjalani setiap lakon patut diancungi jempol. tentunya di balik kesuksesan mereka ada usaha dan latihan keras sebelum melakukan pementasan. bagusnya pementasan dan kesuksesan mereka di dunia teater, mungkin bisa dibilang teater koma menjadi contoh panutan atau kiblat organisasi teater yang ada di indonesia. tanggal 9 november 2017 menjadi tanggal dimulainya pementasan teater koma yang ke-150. pada pementasan ini teater koma menghadirkan lanjutan dari lakon-lakon sie jin kwie. lakon yang berjudul sie jin kwie melawan siluman barat, merupakan lakon terakhir dari seri sie jin kwie. lakon ini mengajarkan kita tentang sikap kepahlawanan dan pengabdian kepada tanah air dan bangsa. sekilas cerita, lakon ini menceritakan perjuangan jendral perang wanita yang bernama hwan lie hoa yang diperankan oleh tuti hartati untuk menaklukkan tartar barat yang dipimpin souw po tong yang diperankan oleh idries pulungan. sebagai musuh besar sie jin kwie, menaklukkan souw po tong harus melewati perang sebanyak 22 kali. dalam memerangi kejahatan hwan lie hoa dibantu oleh suaminya sendiri sie teng sang, empat jenderal wanita, 300.000 pasukan teng, dan masih banyak lagi.salah satu dialog yang menunjukan hwan lie hoa merupakan jendral perang yang tangguh adalah "saya adalah jenderal pasukan tang. siapa menyerang tang akan saya hukum. kalau kalian berbuat itu, saya siap membuat kalian menyerah atau mati." pementasan yang disutradarai oleh n.riantiarno ini didukung oleh ade firman hakim, rangga riantiarno, budi ros, budi suryadi subakah hadisarjana, dorias pribadi, angga yasti, ina kaka, andhini puteri, sekar dewantari, dana hasan, daisy lantang, sir ilham jambak, supartono jw, dan masih banyak lagi. n. riantiarno sebagai pembuat lirik akan di aransemen oleh fero aldiansya stefanus. penataan busana oleh rima ananda, skeno grafi dan tata cahaya panggung digarap oleh taufan s. chandranegara, penata gerak sentot s., pengarah tehnik tinton prianggoro serta pimpinan produksi ratna riantiarno. selain menampilkan cerita yang menegangkan dan tentu saja ada bagian yang mengocok perut para penonton, properti dan tata rias dibuat sedetail mungkin sehingga penonton bisa masuk kedalam suasana masa lalu di negeri tirai bambu. lakon sie jin kwie melawan siluman barat yang didukung oleh bakti budaya djarum foundation dapat disaksikan di graha bhakti budaya, taman ismail marzuki, pada tanggal 10-19 november 2017, pukul 19.30 wib. kecuali hari minggu pada tanggal 12 dan 19, pukul 13.30 wib.   penulis reza sugiharto baca juga opera ikan asin, kala bandit dipuja bak pahlawanopera kecoa, rumitnya cinta segitiga psk, bandit, dan wariaantusiasnya penonton dalam warisan, pentas teater koma ke-149 sumber: www.liputan6.com

Produksi Ke-149 Teater Koma Persembahkan Lakon "Warisan"

Masih dalam perayaan hari jadinya yang ke-40 teater koma yang didukung oleh bakti budaya djarum foundation mempersembahkan lakon berjudul warisan. naskah baru karya n. riantiarno ini sukses digelar di gedung kesenian jakarta mulai dari tanggal 10 – 20 agustus 2017. “teater koma terus berproses kreatif tiada henti, karya demi karya mengalir produktif dari kelompok teater yang tahun ini berumur 40 tahun. konsistensi yang dilakukan oleh teater koma menjadi inspirasi bagi kita untuk terus melakukan eksplorasi gagasan sejauh mungkin dalam menghasilkan karya-karya kreatif. teater koma selalu mempersembahkan sajian artistik yang indah dan detil, kemampuan aktor aktrisnya yang luar biasa, serta mampu menggelar pertunjukannya selama dua minggu berturut-turut.” ujar renitasari adrian, program director bakti budaya djarum foundation. selain mendukung pertunjukan, bakti budaya djarum foundation juga berpartisipasi dalam program apresiasi seni pertunjukan teater koma, yaitu sebuah program yang bertujuan untuk mengajak 200 pekerja seni teater, guru, dan mahasiswa di jakarta untuk menonton pertunjukan teater koma. program ini diharapkan memberikan ruang apresiasi bagi masyarakat terutama yang belum pernah menonton karya teater koma sebelumnya, sehingga mereka menemukan referensi mengenai sajian artistik serta konsep dramaturgi yang detil dari karya teater koma. pertunjukan ini bercerita tentang sebuah panti werdha yang dulu merupakan kebanggaan kota. kaum tua dan terlantar ditampung di panti tersebut, banyak orang yang menyumbang sukarela. delapan tahun kemudian, panti wedha itu berubah. mereka mulai menampung orang-orang kaya yang mampu membayar mahal. panti werdha pun dibagi dua, untuk orang kaya dan untuk orang-orang miskin. sebuah tembok tinggi memisahkan kedua tempat itu tanpa ada pintu yang menghubungkan. di tempat orang kaya, ada penulis terkenal yang mencari ilham, ada persahabatan, percintaan, bahan diskusi politik yang membahas: apakah warisan negeri hanya korupsi dan utang. di sisi lain tembok, orang miskin sangat tidak terawat. ada yang pindah ke panti wedha lain, beberapa masih tetap tinggal disana karena tak mampu pindah. mereka hanya bisa pasrah. biaya makin tinggi, area untuk orang miskin semakin sempit. semua harus membayar, tentu saja membayar dengan harga yang sangat mahal. “warisan merupakan naskah baru yang saya tulis pada tahun 2017, dan saya rasa naskah ini cocok dimainkan saat ini, sekaligus merayakan hari jadi kami yang ke-40 tahun. pementasan ini pun berbeda dengan pementasan opera ikan asin di bulan maret lalu, warisan tidak ada ilustrasi musik dan tidak ada tarian yang biasa ditampilkan oleh kami. sebagian besar tokoh pemain dirias selayaknya berusia 70 tahun dan warisan akan memberikan kejutan dalam teknik perpindahan set. kami harap, apa yang kami persiapkan dalam lakon ini dapat menjadi tontonan yang menghibur dan pesan yang ingin kami sampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton,” ujar n. riantiarno, penulis dan sutradara teater koma. pementasan warisan didukung oleh idris pulungan, budi ros, ratna riantiarno, rita matu mona, ohan adiputra, daisy lantang, elly luthan, dorias pribadi, raheli dharmawan, ratna ully, tuti hartati, bayu dharmawan saleh, sir ilham jambak, rangga riantiarno, netta kusumah dewi, julung ramadan, palka kojansow, dana hassan, ariffano marshal, suntea sisca, andhini puteri lestari, toni tokim, roma gia, radhen darwin, ledi yoga, indrie jati, alex fatahillah dan febri siregar. tata busana oleh alex fatahillah, tata rias garapan subarkah hadisarjana didukung pac martha tilaar akan berpadu dengan tata artistik dan tata cahaya panggung garapan taufan s. chandranegara, didukung oleh pimpinan panggung marshal ariffano, pengarah teknik tinton prianggoro serta pimpinan produksi ratna riantiarno, di bawah arahan co-sutradara ohan adiputra dan sutradara n. riantiarno. semoga kegiatan ini mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat terutama generasi muda untuk terus berkarya serta meningkatkan rasa cinta dan kebanggaan sebagai bangsa indonesia. mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. cinta budaya, cinta indonesia.sumber: www.indonesiakaya.com

HUT 40 tahun Teater Koma: Opera Ikan Asin yang masih relevan

Untuk memperingati 40 tahunnya, teater koma mementaskan opera ikan asin yang akan ditampilkan di ciputra artpreneur, jakarta, selama empat hari, mulai 2-5 maret 2017. drama ini pernah mereka pentaskan sebelumnya pada 1983 dan 1999, tapi masih dianggap relevan bagi indonesia saat ini. sebelum pementasan opera ikan asin dimulai di ciputra artpreneur, rabu (01/03) lalu, sekumpulan orang; pendiri, pemain, perancang set dan kostum, serta kru yang pernah terlibat dalam perjalanan 40 tahun teater koma, naik ke panggung. dipimpin oleh salah satu pendiri teater koma, jajang c. noer, mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan meniup lilin di atas kue besar yang harus diangkut oleh dua orang berseragam tentara batavia ke tengah panggung. di sebelah jajang c. noer, ada ratna riantiarno, pimpinan produksi teater koma, serta rima melati, dan syaeful anwar, keduanya ikut mendirikan teater koma, dan n. riantiarno, yang malam itu menjadi sutradara pementasan. usai meniup lilin di kue ulang tahun, ratna mengatakan, "mudah-mudahan (teater koma) bisa 40 tahun lagi."harapan ini penting di tengah situasi ketika teater masih belum cukup menjadi pilihan tontonan bagi penikmat budaya di indonesia sementara semakin banyak distraksi yang tersedia. dipimpin oleh salah satu pendiri teater koma, jajang c. noer, beberapa pendiri serta kru yang pernah terlibat dalam 40 tahun teater koma, menyanyikan lagu selamat ulang tahun. sesuatu yang diakui oleh ratna riantiarno usai pertunjukan. "karena kalau kita lihat apresiasi masyarakat indonesia terhadap seni pertunjukan itu masih sulit banget. berjuang di indonesia untuk mendapatkan audiens di indonesia, untuk datang, dengan persaingan televisi yang 1001 macam, di rumah buka youtube, lihat apa saja jadi. saya kira memang seni pertunjukan di indonesia perjuangannya nggak selesai-selesai," kata ratna. meski begitu, ratna mengatakan teater koma cukup beruntung dalam urusan mendapatkan khalayak penonton.usia teater koma yang relatif panjang membuat mereka memiliki cukup banyak penonton setia. menurut ratna, mereka menyimpan database sekitar 10.000 penonton, yang kemudian mendapat informasi lewat whatsapp dan sms setiap teater koma akan mengadakan pertunjukan. "kita belum (mengadakan) publikasi, belum jumpa pers, itu (lewat pemberitahuan) penonton sudah membeli 50% tiket. saya malah kasihan sama beberapa (pertunjukan) yang lain, untuk dua hari saja mereka mencari audiens susah setengah mati," kata ratna. salah satu adegan yang ditampilkan dalam opera ikan asin oleh teater koma. namun ratna menegaskan tidak ada persaingan antara sesama kelompok seni pertunjukan yang mengadakan pementasan. "kita sama-sama berjuang."kisah raja banditopera ikan asin atau the threepenny opera yang ditampilkan bukanlah materi baru bagi teater koma. karya bertolt brecht dengan musik kurt weill yang disadur dan disutradarai oleh n. riantiarno ini pernah mereka pentaskan pada 1983 lalu, dengan riantiarno memerankan karakter utamanya, mekhit alias mat piso, raja bandit batavia.kini mekhit diperankan oleh rangga riantiarno, pemilihan yang semakin menonjolkan perjalanan waktu yang dilalui oleh teater tersebut. salah satu yang membangun reputasi teater koma selama ini adalah pilihan mereka pada tema-tema satir sosial yang tajam, yang sempat menyebabkan sedikitnya empat kali pelarangan pementasan mereka di era orde baru. tapi di indonesia yang kini, secara sosial politik, sudah jauh lebih riuh dan terbuka dalam berekspresi sejak mereka berdiri 40 tahun lalu, apakah kelompok teater ini masih punya sesuatu untuk ditohok?tiga jam pementasan opera ikan asin menunjukkan bahwa banyak yang masih bisa menjadi sasaran satir bagi teater koma. kisah persahabatan antara mekhit, sang raja bandit, dengan petinggi polisi, kartamarma (joind bayuwinanda) bukan hal asing dalam realita indonesia kini -termasuk juga hukum yang bisa menjadi bersifat transaksional.pernikahan antara mekhit dengan poli picum (sekar dewantari), anak perempuan dari 'pengusaha' kemiskinan atau organisator pengemis, natasasmita picum (budi ros) juga menjadi cermin masyarakat kini: bahwa kita tak merasa ada yang salah dengan menikahi atau berkeluarga dengan bandit dan pencuri.juga tak merasa salah jika mendapatkan kekuasaan atau keuntungan dari hubungan dengan para bandit dan pencuri maupun mengelola uang kejahatan sebagai bagian dari bisnis keluarga. lewat pementasan tersebut, kita juga diingatkan akan kenyataan indonesia modern, ketika status bandit ternyata tak menutup peluang bagi seseorang untuk memperoleh hadiah rumah, tanah, sampai kesempatan diangkat menjadi anggota perwakilan rakyat yang 'terhormat'. semua tanda-tanda potret masyarakat kontemporer indonesia ada di opera ikan asin. "sekarang ini kan, kita bicara soal kalangan atas dan kalangan bawah, jadi brecht dulu memang seperti itu. kita ambil (drama) ini karena begitu, sampai sekarang masih terjadi seperti itu," kata nano riantiarno, usai pertunjukan."yang atas, lagi-lagi korupsi, yang bawah, apa yang bisa dilakukan untuk kalangan atas, bentrokan itu terjadi di dalam, dan itu terjadi sampai sekarang." amalia picum (netta kusumah dewi) dan yeyen rachmat (cornelia agatha) dalam salah satu adegan opera ikan asin. namun apakah kritik yang disampaikannya masih tajam?"menurut saya, masih," kata nano. "kalau saya lihat, saya kan nggak pernah turun ke jalan, panggung politik saya adalah ini, tapi secara umum, perubahan tidak ada. menurut saya itu aneh, dan itu harus diberitahu, mudah-mudahan masyarakat melihat (pementasan) ini sebagai pembelajaran.""lagi-lagi kita bicara soal korupsi, itu kan aneh. setelah sekian tahun yang kita bicarakan lagi-lagi itu, dan memang tidak berubah," kata nano lagi sambil tertawa. meski begitu, pada bagian pembuka, saat natasasmita picum mengirimkan para pengemis untuk 'bertugas' mengemis, dengan 'kostum profesional' mereka, lengkap dengan aduhan dan rintihan yang dilebih-lebihkan, terasa lebih sebagai olok-olok atas kemiskinan daripada sebuah satir. adegan itu, dan tawa penonton yang menyertainya, seakan menguatkan sentimen kecurigaan yang sering diungkapkan kalangan kelas menengah kota besar indonesia terhadap orang-orang miskin atau peminta-minta di jalanan, bahwa para peminta-minta tak sepenuhnya miskin dan justru mendapat keuntungan besar dari aksinya itu. apalagi mengingat bahwa pertunjukan ini nantinya ditujukan dan hanya bisa diakses oleh kelas menengah. menurut ratna, sampai sekarang, teater koma masih mengandalkan penonton generasional; mereka yang dulunya sering mengajak anak atau suami atau istrinya, dan kini sudah mengajak cucunya untuk menonton. 'fenomena' ini sudah pernah ditulis pada 1991, oleh budayawan mendiang umar kayam, dalam salah satu kolomnya saat mengenang tontonan lakon okb atau orang kaya baru, dari teater koma, bersama istri dan anak-anaknya. kayam juga sudah menulis soal bertemu dengan rekannya yang juga menonton teater koma bersama anak serta cucu mereka. dalam kolomnya itu, kayam menyebut bahwa dia dan istrinya menertawakan gaya orang kaya baru yang disatirkan dalam drama okb. pasalnya, sejak mahasiswa, mereka sudah mengimpikan dan membayangkan untuk mencapai status tersebut, tapi kayam merasa tak kunjung bisa menjadi orang kaya itu.bahkan setelah kayam beranak-cucu, dan mendapat sederetan status sosial sebagai intelektual indonesia sekaligus sosiolog, novelis, cerpenis, budayawan, guru besar fakultas sastra ugm, dirjen radio dan televisi, sampai pernah memerankan presiden soekarno pada film pengkhianatan g 30 s/pki. namun dalam kolom itu juga, kayam menulis bahwa anak perempuannya menyadarkan ayah dan ibunya lewat sindiran soal 'dendam kelas yang tak kesampaian' bahwa sebenarnya keluarga mereka telah menjadi bagian dari orang kaya baru yang ditampilkan dalam satir tersebut. mungkin benar, belum ada yang berubah dari sisi penonton teater koma. mudah untuk membayangkan bahwa mereka yang menonton pertunjukan ini nantinya akan dengan mudah mengutuk aktivitas konsumsi atau kebudayaan kelas menengah dengan cuitan bertagar semacam 'kelasmenengahngehe' di twitter, tanpa sadar, bahwa sebenarnya mereka adalah bagian dari kelas menengah yang disebut 'ngehe' itu.nilai produksibagaimapaun ada satu hal yang berubah, dalam pementasan opera ikan asin kali ini. jika pada pementasan 1983 dan 1999, teater koma tak menampilkan musik kurt weill, kini mereka membawakannya lewat aransemen fero a. stefanus. nano menilai aransemen itu 'luar biasa' dan memang bisa dengan mudah dianggap menjadi salah satu pilar utama pementasan opera ikan asin edisi 2017, selain juga koreografi, penataan desain panggung yang megah, dan kostum pemain. benar-benar sebuah jamuan nikmat secara audio dan visual. mekhit alias mat piso (rangga riantiarno) dalam adegan puncak opera ikan asin teater koma. dan ruang pertunjukan ciputra artpreneur dengan sistem akustiknya yang sangat baik seakan menjadi tempat yang tepat untuk memamerkan apa yang mampu ditawarkan oleh teater koma dalam 40 tahunnya. lirik dari 13 lagu yang dinyanyikan atau dialog yang diucapkan terdengar jernih dan jelas, dan malam itu, tawa penonton saat menikmati drama yang dipentaskan, cukup sering terdengar. pada akhirnya, selama tiga jam pementasan opera ikan asin, teater koma berhasil menghantarkan apa yang selalu diberikannya dengan baik; hiburan berisi kritik sosial yang mencerminkan pertentangan kelas atas dan bawah buat mereka yang ada di tengah-tengah. isyana artharini - wartawan bbc indonesiafoto hak cipta bbc indonesia sumber : www.bbc.com